Senin, 01 Oktober 2018

Bimbingan Konseling


Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapatkan layanan bimbingan yang memadai[1].layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui beberapa tahap, yakni pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar, pengungkapan sebab-sebab timbulnya masalah belajar, dan pemberian bantuan pengentasan masalah belajar. Dalam penjelasan tersebut bimbingan belajar juga dapat disebutkan dengan bimbingan akademik/pendidikan. Bimbingan akademik adalah bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan penyekesaian masalah-masalah akademik. Adapun yang termasuk dalammasalah akademik yaitu pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar, penyelasaian tugas-tugas dan latihan, pencarian serta penggunaan sumber belajar,perencanaan pendidikan lanjutan, dan lain-lain. Sehingga bimbingan belajar juga dapat dikatakan bagian dari bimbingan akademik. Bimbingan dilakukan dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif sehingga terhindar dari kesulitan belajar. Pembimbing membantu individu mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif,membantu individu agar sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan program pendidikan. Dalam bimbingan ini para pembimbing berupaya memfasilitasi individu dalam mencapai tujuan akademik yang diharapkan[2].
Dalam pelaksanaan bimbingan belajar ada yang bersifat individu sebagaimana dijelaskan dan juga ada bimbingan kelompok belajar. Menyelenggarakan kelompok belajar adalah salah satu aspek untuk merealisasi bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Selain individual siswa juga dapat belajar secara kelompok. Dan mengenai beberapa hal ini ada dasar pemkiran yang dapat diajukan sebagai landasan untuk menyelenggarakan kelompok belajar. Dengan demikian dalam pembentukan kelompok belajar harus berdasarkan padaa dasar pedagogik, psikologis, dan sifat asli dari masing-masing individu anak. Diantara tujuan pembentukan kelompok belajar diantaranya sebagai berikut;
                                                         i.            Membiasakan anak untuk bergaul dengan temannya,bagaimana mengungkapkan pendapat, dan menerima pendapat.
                                                       ii.            Merealisasi tujuan pendidikan dan pengajaran.
                                                      iii.            Untuk belajar mengatasi kesulitan-kesulitan,terutama hal pelajaran secara bersama-sama.
                                                     iv.            Belajar hidup bersama sehingga tidak canggung dalam bermasyarakat.
                                                       v.            Memupuk rasa gotong royong, sebab hal tersebut adalah sifat Bangsa Indonesia[3].
Tahapan bimbingan belajar dapat dilaksanakan dengan melaluilangkah sebagai berikut;
a.       Pengenalan Siswa Yang Mengalami Masalah Belajar
Disamping banyak siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpaibeberapa siswa yang gagal seperti nilai raport yang rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum siswa tersebut bisa dikatakan sebagai siswa yang mengalami masalah belajar, secara lebih luas masalah belajar tidak terbatas dengan contoh yang disebutkan, melainkan memiliki beberapa bentuk ragam yang pada umumnya dapat digolongkan atas;
·        Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi namun tak dapat memanfaatkan secara optimal
·        Ketercepatan dalam belajar, yakni keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi dengan IQ 130/<,tapi masih memerlukan tugas-khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang amat tinggi
·        Sangat lambat dalam belajar, merupakan keadaan siswa yang memiliki bakat akademik kurang memadai dan perlu pertimbangan untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran khusus
·        Kurang motivasidalam belajar, adalah keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seakan-akan merasa jera dan malas
·        Bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar,yakni kondisi siswa yang perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan yang seharusnya, ssperti menunda-nunda tugas,mengulur waktu,membeci guru, tidak mau bertanya untuk hal yang tidak jelas dan tidak diketahuinya, dll.
Siswa yang mengalami masalah belajar dapat dikenali melalui prosedurpengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, serta pengamatan.
Tes Hasil Belajar
Merupakan suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa dikatakan telah mencapai apabila dapat menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Ketuntasan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan, yakni patokan presentasi minimal yang harus dicapai setiap siswa. Siswa yang belum menguasai bahan pelajaran sesuai dengan batasan minimal dikatan sebagai siswa yang membutuhkan bantuan khusus atau mengalami permasalahan dalam belajar. Sedangkan siswa yang sudah menguasai semua bahan yang disajikan dikatakan sebagai siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka patutmendapatkan tugastambahan sebagai bentuk pengayaan.
            Tes Kemampuan Dasar
Setiap individu tentunya memilikikemampuan dasar danintelegen tertentu. Hal ini biasanya diukur dengan mengadministrasikan tes intelegensi yang sudah baku. Diantaranya Progressive Matrices (PM), Wechler intelegence (WAIS dan WISC), Stanford Binet Intelegence Scale (SBIS). Skala intelegensi,kemampuan dasar manusia bisa diklasifikasikan sebagai berikut;
I.Q       140 ke atas      è        sangat cerdas
            120 – 139        è        cerdas
            110 – 129        è        diatas rata-rata
            90  -  109         è        normal atau rata-rata
            80 – 89            è        dibawah rata-rata
            70 – 79            è        bodoh
            Dibawah 70      è        sangat bodoh
Hasil belajar yang dicapai seyogyanya dapat mencerminkan tingkat kemampuan dasar yang dimilikinya.
Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar
            Merupakan salah satu faktor penting dalam belajar. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikapdan kebiasaan siswa dalam belajar. Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan siswa belajar dapat diketahui dikembangkan beberapa alat berupa “skala sikap dan kebiasaan belajar. Alat ini  dapat mengungkapkannya derajat siswa yang mengajarkan dan membiasakan belajar. Dengan memperhatikan derajat sikap dan kebiasaan belajar siswa tersebut dapat diketahui mana yang sudah memadai dan perlu dipelihara, serta siswa-siswa mana yang memerlukan bantuan khusus dalam meningkatkan sikap dan kebiasaan belajarnya.
Tes Diagnosik
            Adalah instrumen untukmengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Dengan tes ini sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dankelemahan siswa.makin sedikit siswa membuat kesalahan makin kuatlah siswa terhadap materi pelajaran bersangkutan begitu uga sebaliknya. Siswa-siswa yang ternyata sudah cukup kuat dalam mata pelajaran yang dimaksud dianjurkan untuk terusmemupuk kekuatan mereka, sedangkan siswa yang masih mengalami banyak kesalahan berarti memerlukan bantuan khusus.
Analisis Hasil Karya atau Belajar
            Analisis ini merupakan bentuk lain dari tes diagnosik, tujuannya yaitumengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh beberapa siswa dalam mata pelajaran tersebut. Analisis hasil belajar merupakan merupakanprosedur yang pelaksanaannya dilaksanakan dengan memeriksa langsung materi hasil belajar yang ditampilkan langsung oleh siswa baik bentuk tulisan, grafik, hasil kerajinan, rekaman video,dll. Dalam analisi hasil belajar ini harus menggunakan pedoman tertentu. Hasil pengamatan tersebut dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau bahkan telah dibakukan.
b.      Upaya Membantu Siswa Yang Mengalami Masalah Belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar sebagaiman telah dijelaskan perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidakberlarut-larut. Beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar, dan mengembangkan sikap kebiasaan belajar efktif.
·        Pengajaran Perbaikan
Merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang siswa atupun sekelompok siswayang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaikikesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Dalam hal inikeslahan paling pokok terkait kesalah pengertian, dan tidak menguasai penih konsep-konsep dasar . apabila kesalahan tersebut diperbaiki maka siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Dibandingkan dengan pengajaran biasa, perbaikan sifatnya lebih khusus, karenabahan,metod,dan pelaksanaan disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang yang dihadapi siswa. Dalam halini adalah amat penting bagi seorang konselor memahami perasaan-perasaan siswa yang menhadapimasalah tersebut. Tingkah laku yang ditampilkan siswa menghednaki adanya perhatian dari guru dan konselor. Tidak dapat disangsikan bahwa yang utama harus diupayakan oleh guru dan konselora adalah mendorong siswa untuk mau beajar.
·        Kegiatan Pengayaan
Kegiatan ini adalah suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan terencana untukmenambah perluasan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya. Hal ini sering muncul pada proses pembelajaran yang terencana secarabaik seperti modul, paket belajar,dll.
Dilihat dari segi prestasi atau hasilbelajar mereka, siswa yang amat belajar itu sebenarnya tidaktergolong siswa yang menghadapi masalah belajar. Bahkan semua siswa harus didorong agar dapat mencapai hasil belajar yang seperti itu. Masalah yang dihadapi nantinya masuk pada akibat dari kecepatan belajar yang dialaminya itu. Dampaknya pun bisa positif ataupun negatif dampak positif apabila siswamerasa diperhatikan dan dihargai orang lain atas keberhasilan yang telah dicapai. Sebaliknya kecepatan belajar itu akan memiliki dampak negatif apabila siswa merasa merasa kurang diperhatikan dari apa yang sudah dicapai dan dihargai keberhasilannya oleh orang lain. Mereka cenderung patah hati,kecewa, tidak semangat,dll. Dan dalam pergaulannya juga bisa jadi mereka akan salah tingkah dalam bersosial.
·        Peningkatan Motivasi Belajar
Sorang guru/konselor wajib membantu siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya.halini dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut;
                                                                 i.            Memperjelas tujuan belajar
                                                                ii.            Menyesuaian pengajaran dengan bakat,kemampuan dan minat siswa
                                                              iii.            Menciptakan suasana belajar menantang,menyenangkan, dan merangsang
                                                              iv.            Memberikan hadiah penguatan dan hukuman bila perlu
                                                               v.            Menciptakan suasana hubungan hangat dan dinamis antara guru dengan muriddan muriddengan murid
                                                              vi.            Menghindari tekanan-tekanan dansuasana yang tidak menentu
                                                            vii.            Melengkapi sumberdan peralatan belajar
·        Pemiasaan Sikap Dan Kebiasaan Belajar Yang Baik
Setiap siswa diharapkan dapat menrapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Sebagian siswamemang memerlukan bantuan untuk mampu melihat secara kritis sikap-sikapdan kebiasaan belajar yang merekamiliki. Melalui bantuan ini mereka diharapkan memiliki dan menemukan kelemahan-kelemahan mereka dalam belajar, dan selanjutnya berusahamengubah kelemahan tersebut dan memperbaikinya. Hendaknya siswa didorong meninjau sikap=ya dengan prinsip sebagai berikut;
·        Beajar berarti melibatkan diri secara penuh, lebih dari sekedar membaca dlltapi menyatu dengan apayang dipelajari
·        Efisiensi belajar akan meningkat apabila dilandaskan pada rencana tujuan nyata yang telah diukur
·        Kata-kata,ungkapan-ungkapan, kalimat yang ada dalam bahan yang dipelajari dibacadengan penuh pengertian
·        Behan belajar hanya akan dipelajaribaik apabila diguakan dengan mengguakan metode belajar secara menyeluruh
·        Belajar dalam seuasana terpaksa tidakmemberikan harapan besar untuk berhasil dengan baik.
·        Untuk mendapat kegiatan menvapai hasil belajar yang baik diperlukan adanya suasana hati nyaman, kesehatan baik, tidur teratur,dan rekreasiyang memadai.
Lebih jauh sikap dan kebiasaan tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan seringkali dengan bantuan yang terencana terutama guru dan konselor, orang tua,. Untuk itu dapat dibantu dalam hal berikut
·        Meneukan motif tepat dalam belajar
·        Memeliharakondisi kesehata yang baik
·        Mengatur waktu belajar disekolah dan dirumah
·        Memilih tempat belajar yang baik
·        Belajar dengan sumber belajar yang baik, kaya,seperti buku-buku teks dan referensi lainnya
·        Membaca secara baik  dan seuai dengan kebutuhan , misalnya kapan membaca secara garis besar,kapan terinci, dan sebagainya
·        Tidak segan bertanya hal yang tidak diketahhui kepada guru,teman, dll
Dalam layanan bimbingan belajar peranan guru dan konselor adalah saling membantu,mengisi,menunjang, dll. Sebagaimana disebutkan terdahulu, guru sebagai penguasa lapangan dan penggerak kegiatan pembelajaran siswa sedangkan konselorsebagai arsitek, penasihat dan penyumbang data, masukan, pertimbangan, bagi ditetapkannya layanan bimbingan belajar. Konselor dapat membantu mengolah danmenafsirkan nilai-nilai tes hasil belajar, tapi tersebut dibuat oleh guru. Dalam hasil tersebut memang diharapkan adanya tes hasil belajar yang sudah dibakukan.
Berdasarkan pengungkapan kelemahan dan kekuatan siswa dengan menggunakan instrumen diatas, konselor dan guru merancang bimbingan belajar bagi siswa yang memerlukannya baik secara individu maupun kelompok. Dalam pelaksanaannya guru dan konselor masing-masing bersama tergantung pada materi pelayanan. Layanan yangmaterinya lebih banyak menyangkut penguasaaan bahan pelajaran menuntut  peranan guru lebih besar dari pada konselor, sedangkan peranan terkait dengan motivasi, minat,sikap, dan kebiasaan belajar menuntut lebih banyak peranan konselor. Keadaan yang lebih dikehendakiadalah apabila kedua pihak selalusaing bahu membahu meningkatkan siswa belajar baik disekolah maupun diluar sekolah/di rumah.

KESIMPULAN

            Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Siswa yang mengalami masalah belajar dapat dikenali melalui prosedurpengungkapan melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar, serta pengamatan.
Analisis hasil belajar merupakan merupakanprosedur yang pelaksanaannya dilaksanakan dengan memeriksa langsung materi hasil belajar yang ditampilkan langsung oleh siswa baik bentuk tulisan, grafik, hasil kerajinan, rekaman video,dll. Keadaan yang lebih dikehendakiadalah apabila kedua pihak selalusaing bahu membahu meningkatkan siswa belajar baik disekolah maupun diluar sekolah/di rumah


[1]Prayitno,dkk.Dasar-dasar bimbingan&konseling, RinekaCipta; Jakarta,2013.hal 279
[2]Ahmad Juntika Nurihsan. Bimbingan&Konseling dalam berbagai latar kehidupan. RefikaAditama. Bandung. 2011
[3] Bimo walgito,Bimbingan & Penyuluhan di Sekolah, Andi Offest;Yogyakarta,1995.hal.103-105

Resensi Buku


RESENSI BUKU
1.      Judul Buku
Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Belakang Kehidupan
2.      Pengarang/Penulis
Prof. Dr. Achmad Juntika Nurihsan, M. Pd.
3.      Penerbit
PT Refika Aditama Bandung 40254
4.      Tahun Terbit
2011
5.      Ukuran Dimensi Buku
23 cm x 15,5 cm
6.      Tebal Buku
120 halaman
7.      Isi buku
Seiring dengan pesatnya pembangunan dan kesamaan kesempatan bagi setiap orang membuat seseorang memiliki masalah yang kompleks. Secara  umum masalah-masalah tersebut tidak dapat diatasi sendiri, oleh karenanya diperlukan bimbingan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Bimbingan dan konseling bersifat edukatif, pengembangan, dan outreach yang mengrahkan pada pembentukan jati diri seseorang. Dorongan akan bimbingan dan konseling sangat dipengaruhi oleh faktor filosofis, psikologis, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan taknologi, demokratisasi dalam pendidikan , serta perluasan program pendidikan.
Dalam buku tersebut penulis mencoba untuk menajikan berbagai macam teori terkait dengan Bimbingan konseling mulai pengertian bimbingan konseling hingga berbagai macam pembagian bimbingan dan macam dari konseling yang digunakan selama ini berdasarkan teori yang ada. Pada bab 1 berisi tentang pendahuluan yang melatarbelakangi munculnya bimbingan konseling dalam dunia pendidikan dan keilmuan dunia. Bab 2 berisi tentang konsep-konsep bimbingan dan konseling, terkait pengertian, tujuan, fungsi, serta prinsip-prinsip bimbingan konseling. Bab 3 menjelaskan  macam bimbingan yang menjelaskan masalah, layanan, pendekatan, dan teknik bimbingan. Bab 4 menmjelaskan tentang penjelasan bimbingan di perguruan tinggi mulai pengertian hingga prosedur pemantauan bimbingan di perguruan tinggi. Bab 5 terkait uraian mutakhir tentang model bimbinga konseling yang komprehensif di sekolah lanjutan. Pada bab 6 menjelaskan bimbingan konseling di sekolah dasar mulai pengertian fungsi, tujuan, hingga tujuannya. Sedangkan konsep dasar mutu dan sistem manajemen layanan bimbingan konseling terdapat pada bab 7.  Bab 8 menyajikan konsep dan peran bimbingan konseling dalam proses belajar mengajar yang bermakna di perguruan tinggi. Bab 9 mejelaskan strategi dan intervensi konseling, Bab 10 berisi tentang konseling keluarga dan Bab 11 menyajikan tentang konseling traumatik.
Bimbingan konseling berupaya mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa, pencegahan terhadap timbulnya masalah yang akan menghambat perkembangannya, dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Oleh karenanya BK bisa dijadikan sebagai bekal untuk kehidupan masa depan yang solusionis.
Penyajian bimbingan konseling berbagai macam latar belakang menjadikan kemudahan ketika hendak menyelesaikan masalah, sebab pengetahuan terkait ruang lingkup terkait seperti ruang lingkup bimbingan mahasiswa dari akademik, pengembangan sikap dan tanggung jawab profesional, penyesuaian sosial pribadi, dll. 
8.      Bahasa Penulis
Dalam penulisan buku tersebut penulis mencoba untuk menyajikan dan berkomunikasi dengan pembaca sehingga dapat dipahami secara luwes dan tak terbatas. Namun pada dasarnya penyajian bahsa dalam buku tersebut masih menggunakan bahasa sistemik yang hanya menjelaskan-menjelaskan atau menyajikan terori-teori tertentu.
9.      Kelebihan
Buku tersebut mencoba untuk menyajikan semua aspek terkait dengan BK dan bahasanyapun sistemik, dalam penyajian beberapa teori mencoba untuk memberikan contoh secara real dan bukan khayalan atau sekedar gambaran.
10.  Kekurangan
Dalam buku tersebut belum bisa mejelaskan aspek-aspek yang disajikan secara rinci dan komprehensif, sebab penulis menyajikan semua teori sehingga yang ditampilkan hanyalah sekilas gambaran umum dan bukan penjelasan rinci yang memberikan pemahaman secara tepat dan efisien.
11.  Kesimpulan
Buku ini masih dikatakan layak sebagai bahan ataupun sumber pengetahuan bagi setiap subyek pendidikan, sebab masih disajikan dengan bahasa yang sesuai dengan kewajaran ataupun ejaan sistematis dan perlu menggunakan pemahaman yang kuat dalam mencerna isi dari buku tersebut. Sehingga lebih seing digunakan oleh kalangan mahasiswa.

Demografi Pendidikan Indonesia


Jumlah penduduk pada suatu negara selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk. Pertumbuhan penduduk tidak sama pada berbagai tempat, begitu pula pada setiap daerah, provinsi, atau kota yang ada di Indonesia. Pertumbuhan di daerah tertentu lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya, seperti : D.I Yogyakarta, D.K.I Jakarta, Bandung yang merupakan pusat pendidikan sehingga pertumbuhan penduduknya lebih besardibandingkan daerah lainnya ini salah satunya diakibatkan oleh migrasi, dimana mereka yang ingin mendapatkan pendidikan yang tidak ada di tempat tinggal mereka sebelumnya dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Semakin jumlah penduduk, maka semakin besar jumlah sekolah, guru, sarana prasarana yang harus disediakan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut. Kualitas sumber daya manusia pada suatu daerah dipengaruhi tergantung kebanyakan orang berpendidikan rendah, berarti kualitas sumber daya manusianya rendah.
Ketrkaitan erat antara demografi dengan pendidikan sangatlah berperan penting, karena dengan ketersediaan data demografi baik dari sensus, survei, maupun pencatatan kejadian penting akan dijadikan dasar atau pedoman dalam perencanaan pembangunan bidang pendidikan. Faktor-faktor demografi diantaranya dengan melalui sensus penduduk, survei, dapat memberikan gambaran yang lebih jelas untuk membantu dalam perumusan kebijakan misalnya menentukan besar anggaran untuk bidang pendidikan. Seiring dengan berbagai perkembangan elemen kehidupan menjadikan pertumbuhan sumber daya manusia semakin pesat dan perubahan kualitas maupun kuantitas manusia semaki berbeda dengan masa sebelumnya.








A.     Pengertian
Dalam pengertian yang sempit, demorafi didefinisikan sebagai demografi formal (atau juga dikenal dengan demografi teknik). Demografi formal berfokus pada jumlah, distribusi, struktur dan perubahan penduduk. Jumlah menunjukkan banyaknya penduduk, distribusi menunjukan penempatan penduduk dalam suatu ruang pada suatu kurun waktu tertentu secara geografis atau berbagai daerah tempat tinggal, struktur dalam pengertian yang sempit mencakupdistribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur juga mencakup perubahan atau pengurangan pada jumlah penduduk atau salah satu unit dari struktur penduduk. Komponen perubahan penduduk adalah kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk.

B.     Pertumbuhan Penduduk di Indonesia
Dalam suatu wilayah baik negara ataupun lainnya setiap waktu pasti mengalami suatu hal yang disebut dengan perubahan, yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kelahiran, kematian, migrasi, dan pertumbuhan penduduk. Di Negara Indonesia setiap tahun penduduknya selalu mengalami perubahan dan bahkan peningkatan, besarnya pertumbuhan penduduk tidaklah selalu sama, hal ini terbukti dari hasil sensus yang telah dilakukan beberapa kali di Indonesia.
Indonesai berada dalam urutan keempat didunia dalam hal besarnya jumlah penduduk setelah RRC, India dan Amerika Serikat;

Tabel 1 Perkembangan Penduduk Indonesia.
           
TAHUN
JUMLAH PENDUDUK
1930
60.727.000
1961
97.985.348
1971
119.208.229
1980
147.490.298
1990
179.378.946
2000
206.264.595
2009
240.271.522
            Pertumbuhan penduduk disetiap provinsi Indonesia terdapat perbedaan antara satu provinsi dengan  provinsi yang lainnya.
C.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu yakni berubah bertambah atau berkurang. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor demografi dan nondemografi;
Faktor demografi meliputi tiga hal;
1.      Kelahiran
2.      Kematian
3.      Migrasi (migrasi masuk dan migrasi keluar)
Kelahiran akan menambah jumlah penduduk, sedangkan kematian akan akan mengurangi jumlah penduduk. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Migrasi masuk akan menambah jumlah penduduk, sedangkan migrasi keluar akan mengurangi jumlah penduduk.
D.    Kepadatan Penduduk Indonesia
Kepadatan penduduk di Indonesia semakin terus mengalami peningkatan, penyebarannyapun tidak merata baik antar pulau ataupun antar provinsi. Kepadatan penduduk Indonesia mengalami peningkatan 76 jiwa per km2 pada tahun 1980, meningkat 93 jiwa per km2 dan pada tahun 2000 naik menjadi 106 jiwa per km2. Faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk antara lain;
1.      Kesuburan tanah
2.      Bentuk lahan
3.      Iklim yang baik
4.      Pusat pemerintahan
5.      Pusat kegiatan ekonomi dan industri
6.      Prasarana jalan
7.      Pusat pendidikan

E.     Struktur Penduduk Indonesia
Struktur penduduk berguna untuk program perencanaan pembangunan di masa yang akan datang. Beberapa susuna penduduk antatra lain;
1.      Susunan Pnduduk Menurut Umur Dan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk Indonesai menunjukan bahwa jumlah penduduk usia muda lebih banyak dari usia dewasa, jumlah penduduk bertambah dengan cepat.
2.      Susunan Penduduk Menurut Tempat Tinggal
Susunan penduduk menurut tempat tinggal bisa ditemukan menurut tempat tinggal penduduk bersangkutan, apakah didesa atau di kota. Susunan ini juga dapat dijadikan sebagai bahan perencanaan bidang pembangunan.
3.      Susunan Penduduk Menurut Pendidikan
Susunan penduduk menurut pendidikan adalah penggolongan penduduk berdasarkan jenjang pendidikan yang diperolehnya. Jenjang pendidikan biasanya diklarifikasi mulai jenjang yang tidak bersekolah sampai perguruan tinggi.

F.      Migrasi Dan Faktor Penyebabnya
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah laih. Jenis-jenis migrasi antara lain;
1.      Migrasi internasional, masuknya suatu penduduk dari negara lain kedalam suatu negara. Migrasi internasional ada macam, imigrasi, emigrasi, dan remigrasi.
2.      Migrasi nasional, perpindaha penduduk dalam suatu negara terdiri atas transmigrasi, uranisasi, ruralisasi, migrasi musiman, migrasi srikuler.
Faktor terjadinya migrasi;
1.      Faktor ekonomi
2.      Faktor keselamatan
3.      Faktor keamanan
4.      Faktor politik
5.      Faktor agama dan sosial
6.      Faktor kepentingan pembangunan, pendidikan, tugas, dan faktor keluarga.

G.    Keterkaitan Demografis Terhadap Pendidikan
1.      Pengaruh pendidikan terhadap demografis
Daerah-daerah yang menjadi pusat pendidikan banyak didatangi penduduk yang ingin melanjutkanpendidikan sehingga kepadatan penduduk semakin meningkat. Contohnya D.I Yogyakarta sebagai kota pendidikan banyak didatangi mahasiswa dan pelajar dari penjuru tanah air untuk melanjutkan pendidikan. Dari hal itu, ada daerah-daerah yang memiliki beberapa faktor yang menyebabkan penduduknya semakin cepat bertambah padat. Kepadatan penduduk yang tidak merata, kurang menguntungkan dari segi pembangunan, maka salah satu usaha yang dilakukan untuk mengurangi kepadatan penduduk, yaitu dengan pemerataan pendidikan sampai ke daerah pendalaman untuk mengurangi arus migrasi ke pusat-pusat pendidikan.

2.      Pengaruh Struktur Penduduk Terhadap Pendidikan
Struktur penduduk disebut juga komposisi atau susunan penduduk, susunan penduduk sering dilakukan berdasarkan umur, jenis kelamin, mata pencaharian, agama, pendidikan, tempat tinggal dan sebagainya.
Susunan penduduk menurut pendidikan dapat menjadi pedoman kualitas sumber daya manusia di negara tersebut kebanyakan pendidikan rendah, berarti kualitasnya juga rendah.

3.      Pengaruh Faktor Pendidikan Terhadap Migrasi
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi adalah faktor pendidikan, yaitu migrasi yang terjadi karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak penduduk yang bermihrasi ke tempat lain karena program pendidikan yang diinginkan tidak ada di tepat tinggalnyasehinga dia bermigrasi ke tempat lain karena program pendidikan sesuai dengan keinginannya. Migrasi seperti ini tidak hanya tebatas dalam negeri tetapi dapat pula ke luar negeri seperti mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
H.    Kesimpulan
Jumlah penduduk dalam suatu negara selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh faktor kelahiran, kematian, atau migrasi perpindaha penduduk. Pertumbuhan penduduk pada setiap tempat tidakklah memiliki kesamaan baik kota/kabupaten, provinsi, negara ataupun dunia. Semakin besar jumlah penduduk maka semakin banyak sekolahan, guru, sarana prasarana yang harus disediakan pemerintah untuk memenuhi keutuhan pendidikan tersebut.
Keterkaitan erat cantara demografi dan pendidikan sangat berperan penting, karena dengan ketersediaannya data demografi baik dari sensus, survei ataupun pencatatan kejadianpenting akan diijadikan dasar pedoman dalam perencanaan pembangunan bidang pendidikan. Faktor-faktor demografi antaranya melalui sensus penduduk, survei ini dapat memberikan gambaran lebih jelas untuk membantu dalam perumusan kebijakan. Misalnya menentuka besarnya anggaran untuk bidang pendidikan.


Prinsip Multikultural


Prinsip-prinsip Pendidikan Multikultural

Terdapat tiga prinsip pendidikan multikultural yang dikemukakan oleh Tilaar, antara lain sebagai berikut:

1. Pendidikan multikultural didasar pada pedagogik kesetaraan manusia (equity pedagogy).
2. Pendidikan multikultural ditujukan kepada terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas dan mengembangkan pribadi-pribadi Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dengan sebaik-baiknya.
3. Prinsip globalisasi tidak perlu ditakuti apabila bangsa ini arah serta nilai-nilai baik dan buruk yang dibawanya.

Ketiga prinsip pendidikan multikultural yang dikemukakan Tilaar tersebut diatas sudah dapat menggambarkan bahwa arah dari wawasan multikulturalisme adalah menciptakan manusia yang terbuka terhadap segala macam perkembangan zaman dan keragaman berbagai aspek dalam kehidupan modern.

Adapun prinsip–prinsip pendidikan multikultural yaitu:

(a) pemilihan materi pelajaran harus terbuka secara budaya didasarkan pada siswa. Keterbukaan ini harus menyatukan opini–opini yang berlawanan dan interprestasi– interprestasi yang berbeda.
(b) isi materi pelajaran yang dipilih harus mengandung perbedaan dan persamaan dalam lintas Kelompok.
(c) materi pelajaran yang dipilih harus sesuai dengan konteks waktu dan tempat.
(d) pengajaran semua pelajaran harus menggambarkan dan dibangun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dibawa siswa ke kelas.
(e) Pendidikan hendaknya memuat model belajar mengajar yang interaktif agar supaya mudah dipahami.