Jumat, 24 Maret 2017

tuna grahita



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemahaman masyarakat umum mengenai anak berkebutuhan khusus masih sangat minim. Mereka menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang tidak memiliki kemampuan apapun. Salah satu dari mereka adalah anak tunagarahita. Anak tunagrahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata – rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita atau sering dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya sukar untuk mengkuti program pendidikan disekolah biasa secara klasikal.
Namun anak tunagrahita juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya, salah satu hak itu adalah untuk mendapatkan pendidikan. Karena memiliki hambatan intelektual, namun mereka juga masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal tersebut diatur dalam UUD’45 pasal 31 ayat 1, yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak untuk mendapatkan pendidikan”. Hal tersebut lebih diperjelas lagi didalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 5 ayat 2, dan pasal 33 ayat 1, menyatakan bahwa setiap warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Oleh karena itu sangat diperlukan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita. Sehingga dalam makalah ini, kelompok kami akan membahas mengenai pengertian tunagrahita, karakteristik tunagrahita, tipe tunagrahita, pendampingan yang dilakukan untuk tunagrahita.



B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Tunagrahita?
2. Apa karakteristik anak penyandang Tunagrahita?
3. Apa saja layanan pendidikan bagi anak Tunagrahita?
4. Bagaimana upaya guru dalam menangani anak Tunagrahita?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Tunagrahita.
2. Untuk mengetahui karakteristik anak penyandang Tunagrahita.
3. Untuk mengetahui layanan pendidikan bagi anak Tunagrahita.
4. Untuk memahami upaya guru dalam menangani anak Tunagrahita.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tunagrahita
Tunagrahita merupakan salah satu bentuk gangguan pada anak dan remaja yang dapat ditemui di berbagai tempat. Tunagrahita yaitu suatu keadaan di mana anak mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan ditunjukkan oleh kurang cakupnya mereka dalam memikirkan hal-hal yang bersifat akademik, abstrak, cenderung sulit dan berbelit-belit hampir pada segala aspek kehidupan serta mereka juga kurang memiliki kemampuan menyesuaikan diri. Oleh sebab itu, Anak tunagrahita (retardasi mental) sangat membutuhkan layanan pendidikan/bimbingan secara khusus saat meniti tugas perkembangan di dalam hidupnya.
Orang-orang yang mengalami terbelakang mental telah dicap dengan berbagai sebutan selama berabad-abad dan decade. Kata-kata yang dipakai untuk menggambarkannya mulai dari yang merendahkan seperti dungu/bebal (dumb), dan bodoh (stupid). Bahkan sampai kata-kata yang aslinya dipakai untuk istilah klasifikasi medis seperti idiot (yang dipakai untuk menggambarkan kondisi terbelakang berat–selve retardation), dan imbecile (untuk kategori dibawah terbelakang berat—less self retardation). David, Smith, Sekolah Inklusif: Konsep dan Penerapan Pembelajaran, (Bandung: NUANSA, 2012), hal. 116.
Siswa-siswa yang terbelakang mental memiliki potensi dalam belajar dan mengembangkan seluruh hidup sesuai dengan bidang mereka. Pada umumnya peneliti berpendapat ‘hambatan terbelakang mental’ (development mental disability) yang diciptakan oleh kelambatan mental, terutama bagi orang yang kelainannya lebih tampak, perkembangannya sangat berbeda dengan domain kognitif, sosial, bahkan fisik, dalam hidupnya. Mereka mungkin mempunyai kesulitan disekolah, baik dalam belajar maupun dalam hidup di masyarakat yang membutuhkan jenis-jenis penanganan yang sangat khusus.
Jadi sebagian anak dan orang dewasa yang mengalami terbelakang mental mungkin hanya membutuhkan layanan pengajaran yang sama seperti yang diperlukan siswa lainnya dalam perkembangan pembelajarannya. Terutama yang mereka butuhkan sebagai tambahan diantaranya pengertian guru dan teman-temannya agar berhasil dikelas-kelas regular. Siswa terbelakang mental lainnya.

B.     Karakteristik Tunagrahita
Berikut ini adalah beberapa karakteristik mengenai anak penyandang tunagrahita, yaitu: Mumpuniarti, Penanganan Anak Tunagrahita (Kajian dari segi pendidikan Sosial Psikologi dan Tindak Lanjut Usia Dewasa), (Yogyakarta: UNY Press, 2000), hal. 64.

1.      Karakteristik tunagrahita ringan
a.       Karakteristik kognitif
Mempunyai IQ berkisar 50-70.
Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak, maka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote learning) bukan dengan pengertian.
Kemampuan berpikir rendah, lambat perhatian dan ingatannya rendah.
Masih mampu untuk menulis, membaca, menghitung.
Mengalami kesulitan dalam konsentrasi, sukar untuk diajak fokus.
Umur kecerdasannya apabila sudah dewasa sama dengan anak normal yang berusia 12 tahun.
b.      Karakteristik fisik
Anak tunagrahita ringan nampak seperti anak normal, hanya sedikit mengalami kelambatan dalam kemampuan sensomotorik.
c.       Karakteristik sosial/perilaku
Anak tunagrahita ringan mampu bergaul, menyesuaikan di lingkungan yang tidak terbatas pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri dalam masyarakat, mampu melakukan pekerjaan yang sederhana dan melakukannya secara penuh sebagai orang dewasa.
d.      Karakteristik emosi
1) Anak tunagrahita ringan sukar berpikir abstrak dan logis, kurang memiliki kemampuan analisis, asosiasi lemah, fantasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi, kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik buruk.
Tidak mampu mendeteksi kesalahan pada dirinya, sehingga acuh tak acuh.
e.       Karakteristik motorik
Anak tunagrahita ringan mengalami kelambatan dalam kemampuan sensorimotorik.
Dalam berbicaranya banyak yang lancar, tetapi perbendaharan kata masih minim.
2.   Karakteristik tunagrahita sedang
a.       Karakteristik kognitif
Mempunyai IQ berkisar 30-50.
Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan berhitung tetapi dapat dilatih dalam hal yang sederhana sekedar diperkenalkan membaca dan menulis namanya sendiri dan mengenal angka.
Rendahnya perhatian anak dalam belajar akan menghambat daya ingat. Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, cepat beralih.
Kurang tangguh dalam menghadapi tugas, pelupa dan sukar mengungkapkan ingatan dan mudah bosan.
Mudah beralih perhatiannya ke hal yang dianggapnya lebih menarik dan keterbatasannya dalam kemampuan intelektualnya sehingga kemampuan dalam bidang akademik sangat bersifat sederhana.
Pada umur dewasa anak tunagrahita baru mencapai kecerdasan setaraf anak normal umur 7 tahun atau 8 tahun.
b.      Karakteristik fisik
Penampilannya menunjukkan sebagai anak yang terbelakang, lebih menampakkan kecacatannya.
c.       Karakteristik Sosial/Perilaku
Banyak diantara anak tunagrahita sedang yang sikap sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang dan nampak tidak mempunyai rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
Masih mampu untuk mengurus, memimpin, memelihara dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan lingkungannya, walaupun butuh proses yang lama. Contohnya mandi, makan, minum, berpakaian.
Sangat tergantung pada orang lain.
Bersikap kekanak-kanakan, sering melamun atau hiperaktif
Mampu melindungi diri dari bahaya dan dapat bekerja ringan tetapi tetap dalam pengawasan karena tanpa pengawasan akan bekerja secara asal.
d.      Karakteristik emosi
Dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya.
Kehidupan emosinya sangat lemah, mereka jarang sekali menghayati perasaan tanggung jawab dan hak sosialnya.
Memiliki imajinasi yang tinggi.
e.       Karakteristik motorik
Kurang mampu untuk mengkoordinasikan gerak tubuhnya.
Tangan-tangannya kaku.
3.      Karakteristik tunagrahita berat
Anak tunagrahita berat ini memiliki IQ di bawah 30. Anak ini sepanjang hidupnya memerlukan pertolongan/bantuan orang lain, sehingga berpakaian, ke WC, dan sebagainya harus dibantu. Mereka tidak tahu bahaya atau tidak bahaya. Kata-kata dan ucapannya sangat sederhana. Kecerdasannya sampai setinggi anak normal yang berusia tiga tahun.

C. Pendidikan Bagi Anak Tunagrahita
Anak tunagrahita sangat memerlukan pendidikan serta layanan khusus yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa pendidikan dan layanan khusus yang disediakan untuk anak tunagrahita, yaitu: Delphie, P, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Setting Pendidikan Inklusi). (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hal. 35.

Kelas Transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas transisi sedapat mungkin berada disekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1)
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1.
Pendidikan Terpadu
Layanan pendidikan terpadu ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam suatu kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
Program Sekolah di Rumah
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.



Pendidikan Inklusif
Sejalan dengan adanya perkembangan layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusif. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan dasar prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusif diselenggarakan pada sekolah sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) orang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusif masih dalam tahap rintisan.
Panti (Griya) Rehabilitasi
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam panti ini terbatas dalam hal :
a. Pengenalan diri
b. Sensorimotor dan persepsi
c. Motorik kasar dan ambulasi (pindah dari satu temapt ke tempat lain)
d. Kemampuan berbahasa dan dan komunikasi
e. Bina diri dan kemampuan sosial




D. Upaya Guru dalam Menangani Anak Tunagrahita
1. Manajemen dan Disiplin Kelas
Guru dan siswa menggunakan waktu secara efisien.
Siswa-siswa tidak menunggu untuk meminta bantuan.
Siswa-siswa hanya menggunakan sedikit waktu dalam melakukan perpindahan dari satu aktivitas ke aktifitas lainnya. Sehingga:
1). Tidak banyak yang diperlukan dalam menegakan disiplin.
2). Guru jarang melakukan hukuman.
3). Penanganan-penanganan khusus lainnya tidak diperlukan dalam mengatur sikap.
2. Umpan Balik Selama Pengajaran
Guru memberikan umpan balik positif bagi siswa untuk mendapatkan sikap dan prestasi yang layak. Sehingga guru menghindari umpan balik yang negative kepada siswa. David, Smith, Sekolah Inklusif: Konsep dan Penerapan Pembelajaran, (Bandung: NUANSA, 2012), hal. 125.
Guru membantu siswa menemukan jawaban yang benar bila jawabannya salah. Sehingga guru menghindari kritik kepada siswa dan tugas mereka.
3. Pengembangan Pengajaran yang Tepat
Guru memberikan tugas-tugas pada tingkat kesulitan yang layak bagi setiap siswa. Sehingga siswa dapat diberikan nilai tinggi terhadap jawaban yang benar dari tugas dan pertanyaan guru.
Siswa dapat melakukan setiap tugas dengan sedikit kesalahan. Sehingga guru dan murid berinteraksi sangat positif yang berhubungan dengan tugas pengajaran.
4. Suasana Pengajaran yang Kondusif
Guru melakukan penanganan yang mendukung ketimbang menuduh. Sehingga siswa percaya pada guru dan mau meminta bantuan.
Guru merespon dengan perhatian dan pemahaman kepada siswa yang mempunyai tingkat kemampuan lebih rendah. Sehingga rasa percaya diri siswa terhadap kemampuan dalam belajar meningkat.
Guru lebih mendukung bila siswa mempunyai suatu masalah pembelajaran. Tingkat dan kualitas proses pembelajaran siswa menjadi kokoh.
Berikut ini adalah strategi-strategi tambahan yang perlu diperhatikan: Jeanne, Ellis, Ormrod, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, (Bandung: Erlangga, 2008), hal. 250.

1). Berikan instruksi secara perlahan lahan untuk memastikan mereka dapat mengikuti materi disampaikan.
2). Jelaskan tugas-tugas secara konkrit, spesifik, dan lengkap.
3). Gunakan scaffolding yang memadai untuk mendorong perhatian dan proses-proses kognitif efektif yang lain.
4). Masukkan keterampilan kejuruan dan keterampilan hidup yang umum kedalam kurikulum.
Anak tunagrahita di Indonesia telah diberi berbagai layanan pendidikan yang disediakan agar anak tunagrahita bisa mendapatkan pendidikan seperti halnya anak pada umumnya. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagi anak tunagrahita saat ini, contohnya SLB C, sekolah inklusif dan masih banyak lagi. Di Indonesia pendidikan inklusif atau menuju inklusif pun terus digencarkan, setidaknya mulai 2001. Pendidikan inklusi telah menjadi program Direktorat Pendidikan Luar Biasa yang bertugas untuk mengatur pelaksanaan pendidikan luar biasa tidak hanya di SLB, di sekolah reguler pun diterapkan. Salah satu tujuannya untuk membekali para guru di semua sekolah reguler dengan pengetahuan dan keterampilan layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Beberapa sekolah baik itu SD, SMP, dan SMA reguler telah ditunjuk untuk menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat hambatan.
 













BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hakikat dari anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelejensi dan ketidak cakapan dalam interaksi social sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya. Karakteristik anak tunagrahita terbagi menjadi tiga macam, yaitu: tunagrahita rendah, tunagrahita sedang, dan tunagrahita berat.
Ada berbagai macam layanan yang dapat diberikan bagi anak tunagrahita, diantaranya yaitu:
1. Kelas Transisi
2. Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C,C1)
3. Pendidikan Terpadu
4. Program sekolah di rumah
5. Pendidikan Inklusif
6. Panti (Griya) Rehabilitasi
Di indonesia pendidikan khusus yang ditujukan bagi anak tunagrahita sudah banyak tersedia di berbagai tempat. Terutama sekolah-sekolah inklusif yang mulai digencarkan mulai tahun 2001 dan saat ini telah dilakukan di seluruh indonesia.
B. Saran
Masyarakat sebaiknya diberi penyuluhan mengenai sekolah inklusif dan program layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dapat memberikan anaknya terapi. Jadi anak-anak yang memerlukan pendidikan khusus seperti anak tunagrahita dapat mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Delphie, P, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Setting Pendidikan Inklusi). Bandung: PT. Refika Aditama, 2006.
Mumpuniarti, Penanganan Anak Tunagrahita (Kajian dari segi pendidikan Sosial Psikologi dan Tindak Lanjut Usia Dewasa). Yogyakarta: UNY Press, 2000.
Ormrod, Ellis, Jeanne, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, Bandung: Erlangga, 2008.
Smith, David, Sekolah Inklusif: Konsep dan Penerapan Pembelajaran, Bandung: NUANSA, 2012.

kritik

Kritik Undang-undang Nomor 14 tahun 2005
Tentang Guru dan Dosen

  1. Undang-undang sudah menjelaskan bagaimana tugas dan kwajiban guru dan dosen, namun pada realitanyamasih banyal beberapa diantara mereka yang melaksakan tugasnya hanya untuk menggugurkan kwajibannya dan ingin mendapat imbalan bayaran setiap bulannya.
  2. Penyelenggaraan pendidikan tidak hanya dalam lembaga pendidikan normal saja, namun lembaga pendidikan juga bisa dilaksanakan oleh lembaga nonformal dan informal seperti yayasan dan keluarga.
  3. Undang-undang hanya menjelaskan apa itu daerh khusus namun belum menjelaskan bagaimana proses pendidikannya berlangsung, sebagai daerah khusus seharusnya proses pendidikannya pun secara khusus sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan warga penduduknya.
  4. Guru diberikan ruang gerak dalam perencanan pendidikan dan pengaturan ketentuan pendidikan.



Sabtu, 25 Februari 2017

jiwa

Renggutkan Jiwa

Sudah berapa hidangan yang kini mulai kita dapatkan tuk hidup di masa depan, padahal setiap waktunya selalu hal tak bermanfaat yang terus menerus kita lakukan, apakah mungkin kita dapat mempersiapkan bekal masa depan dengan kebiasaan yang seperti itu ? hidup itu tak semudah yang kita harapkan dan tak sesulit apa yang kita bayangkan, bukan hidup jika tak pernah merasakan naik turunnya persoalan sehingga proses pertumbuhan bisa kita rasakan secara individual dan kekeluargaan. Jiwa ini sebenarnya seringkali menolak saat kita hendak melakukan perbuatan diluar aturan kehidupan namun volume jiwa selalu tertandingi oleh raga yang terus menggelora sehingga realita seakan-akan salah diri kita sepenuhnya padahal sisi positif selalu diisi oleh setiap jiwa manusia. Tuhan...,,jika memang kau berkenan merenggutnya saat kami berada dalam jurang yang begitu luasnya maka sekarang kami sampaikan kalau kami benar-benar tak menyanggupinya, dan jika kau renggutkan jiwa ini saat kema’rufan dan kebajikan kami lakukan maka tolong Kau biarkan lebih lama tuk dipertahankan sebab pada hakikatnya kami masih sangat membutuhkan dan sangan mengharapkan ridlho serta hidayah syafaat yang selama ini Engkau janji-janjikan tolong kabulkan wahai Tuhan biarkan manusia hidup aman didunia penuh ketentraman.
Wahai makhlukKu serta segenap manusia di jagat raya, bukankah Tuhanmu ini telah menciptakan semua ini dengan susah payah hanya untuk kenikmatan kalian sebelum bersanding dengan KU Tuhan yang Menciptakanmu ? namun kenapa kalian semakin ingkar dengan segala kenikmatan yangterus menerus KAMI anugrahkan setiap waktu kalian ? ingatlah waktumu dalam kefanaanmu itu hanya hitungan jam dalam hitungan waktu yang penuh keabadian, namun kenapa kau terus berfikir kalau kekekalan akan dapat kalian dapatkan? Bukankah kalian tahu kalau hanya Tuhanmu yang tak dapat termusnahkan ? beristighfarlah wahai manusia agar Tuhanmu mau mengidayahkan jiwamu pada inayah yang senantiasa kau inginkan hingga surga dan bidadari bidadara terdambakan.

Manusia memang seringkali lupa dengan berbagai realita yang mereka alami dan bahkan mereka senantiasa merasa paling benar ketikadihadapkan dengan manusia lainnya. Namun halyang tak pernah disadari sehingga seringkali melupakan kwajiban yang seharusnya dijaga sesuai amanah yang Tuhan percayakan pada Manusia.

realitatarbiyyah

Realita Tarbiyyah
Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan di setiap perguruan tinggi islam, khususnya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang merupakan fakultas tarbiyyah dan juga terkhusus lagi pada jurusan pendidikan agama islam teladan se-Nusantara seharusnya dan memang diakui oleh hampir seluruh univ brbasis islam senantiasa mengadakan study banding dan juga seminar keteladanan tarbiyyah dimata pihak luar. Namun apakah kenyataannya sesuai dengan harapan dan pandangan umumnya ? pasti semua halitu diluar dugaan kita atau mungkin kita semua belum memahaminya. Kajian keilmuan yang dibahas oleh sivitas akademik tarbiyyah ini memang secara umum dan tak ditelusuri sampai keakar-akarnya, akan tetapi tarbiyyah disini membahas juga dengan sistem tata pe;aksanaannya bukan kwmatangan di kajian. Sebab setelah kelulusan Tarbiyyah ketika ditandingkan materi terkait dengan pemikiran dan juga Alqur’an dengan Ushuluddin tentu Ushuluddin akan lebih matang lantaran disana perkuliahan Ushuluddin bersifat pemikiran secara mendalam dan sistematis sosio historis. Disisi lain disaat Fakultas Tarbiyyah memiliki Kajian sejarah islam secara menyuluruh ketika tanding dengan Fakultas Dakwah jurusan Sejarah Kebudayaan Islam tentu dari sisi kajian materi jurusan dari Dakwah tersebut akan lebih mengakar dari pada Sejarah yang berada di Fakultas Tarbiyyah. Begitu juga ketika diadakan tandingan kajian keilmuan terkait dengan sumber hukum islam dan juga fiqih,Tarbiyyah memang membahasnyanamun hal itu tak dapat melebihi apa kajian fiqih yang diselenggarakan Fakultas Syari’ah sebab Fakultas Syari’ahlah pakar kehukumanislam terkait fiqih dan juga hukum islam yang diterapkan dalam kehidupan mulai dari individu sesama, keluarga, kelompok, berbangsa bernegara, serta kehidupan manusia di alam semesta. Sedangkan Tarbiyyah hanya mempelajari kulitnya saja terkait pedoman hidup sehari-hari. Begitu dengan kajian keilmuan islam lainnya, walaupun begitu adanya realita namun tak seharusnya kita tak seharusnya pesimis ketika menghadapinya. Sebab walau dalam segi kajian Tarbiyyah memang dibawah mereka namun ketika disguhkan dalam sistempendidikan atau mungkin manajemen pendidikan juga setifikasi kekuatan keilmuan Tarbiyyah masih berada diatas semuanya bahkan pengakuan atau sertifikasi tenaga kependidikan Tarbiyyah akan lebih dahulu/dijaminkan adanya dibandingkan dengan fakultas lainnya. Karena selama masa pendidikannya Tarbiyyah sudah beriringan mempelajari ketenagaandibandingkan dengan yang lainnya mereka baru mempelajari tentang ketenagaan usai proses perkuliahan mereka selesai kemudian ditambahkan waktusekitar satu tahun untuk dapat diakui sebagai ketenagaan yang bisa diandalkan dalam segi penidikan. Tarbiyyah kan dapat diyakini kemahirannya dalamelemen pendidikan mulai, manajemen perkantoran, ketenagaan, konseling, perpustakaan, dan lainsebagainya bahkan bisa dikatakan semua hal dipelajari di Tarbiyyah hanya saja semua hanya sebataskulit dan daging luarnya tanpa memakan daging yang sesungguhnya, sehingga yang adahanya gambaran umum tanpa adapenyelesaian sistemis historis serta humanis.

Dalam keseharian kehidupan mahasiswa memang penuh dengan lika-liku perbedaan yang luar biasa banyak dan kompleksnya sehingga terkadang kita sering kali tak dapat mengintrol diri dalam membela diri dari apa yang dianutnya dianggap paling benar tak mau . menerima kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain. Terlebih tarbiyyah ini sangat kompleks mulai darialiran kanan,tengah, hingga kiri namun kita tak perlu merisaukan semua itu.kita datang ke kampus bukan untuk menjegerkan aliran kita, akan tetapikitamenjegerkan keilmuan kita dengan pandangan yaang tak sesuai dengan dunia akademis dan sosio historis.

Rabu, 22 Februari 2017

uswah

Pendidikan berbasis Uswah

       Pendidikan merupakan serangkaian proses kegiatan dalam jangka waktu tertentu yang menuntut adanya suatu perubahan secara pandangan dan juga skill bagi setiap obyek pendidikan yang melibatkan seubyek secara mendalam dan berpengalaman. Dalam bahasa inggris sering disebutkan bahwa pendidikan adalah perpaduan skill and knowledge yang menghasilkan seuatu produk yang disebut dengan akhlak dan kepribadian. Oleh karenanya proses pendidikan yang baik menurut salah satu pemikir islam adalah proses pendidikan yang berlangsung sejak pemilihan pasangan hidup, berperilaku dalam proses pembuatan anak, saat ibu sedanghamil, hingga sang anak lahir ke alam dunia yang fana’ ini. Sebagian pemikir pendidikan berpendapat jikalau kelancaran pendidikan akan dapat ditangkap secara murni ketika subpendidikan tersebut dilakukan dengan cara dicontohkan/teladan/uswah, sebab kekasih Allah SWT diciptakan dengan subyek yang menjadi keteladanan bagi umat manusia sehingga ketika pendidikan dilaksanakan akan semakin meyakinkan dan failid kebenarannay karena tahu apa yang sudah ada dalam asal muasalnya pendidikan yang menciptakan adanya suatu perubahan secara psikis dan fisik secara nyata teraktual.

      Dalam bahasa arab, pendidikan sering diartikan dengan TARBIYYAH, dalam lafal ini sering diartikan dengan berbagai macam pendapat sehingga sering disalah fahamkan oleh setiap penikmat bacaan dan juga minimnya pemahaman bahasa setiap penikmatpengetahuan semakin manambahkannya kekeliruan dsb. Seringkali kata tersebut disrempet-srempetkan dengan ketuhanan atau suatuhal yang terjadi termasuk dalam kehendaktuhan danjuga seubyektifitas penuh terhadap sang maha Pencipta Alam Semesta. Bukan hanya mematok pada setiap pemikir dan juga peneliti pendidikan, akan tetapi seringkalinya terjadi pada lapangan pendidikan yang sudah diterapkan dan ditekuni setiap pendidik tanpadisadari hanyalah sebatas teori tanpa adanya realita yang dapat dilihat oleh siswa/peserta didik. Peserta didik seringkali bingung dengan penerapan teori yang sudah diajarkan terhadap soal yang diberikan,juga dengan apa yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Pendidikan yang seimbang dan teratur tidaklah hanya dilaksanakansebatas teori ataupun nasehat baik, akan tetapi seorang obyek memerlukan adanya tindakan langsung sehingga target pendidikan bisa menirukan dan juga dapat mengaktualisasikan teorinya secara nyatadan lebih terpercaya lantaran pelihat ahli pendidikan secara langsung/teladan/uswah.

Pendidikan

Apakah Perlu Ada Kebijakan Pendidikan ?
Kebijakan pendidikan merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi perumusan,analisa, implementasi, monitoring serta evaluasi seputar masalah pendidikan dan diberlakukan serta diperbarui secara periodik. Tujuan dari kebijakan pendidikan tidak lain adalah sebagai bahan evaluasi dan perbaikan sistem penddikan dalam daerah tertentu dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikannya semakin membaik dan sempurna. Namun realita di Indonesia dirasakan selalu tertinggal dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi, maupun dunia bisnisyang seharusnya seiring sejalan perkembangannya mengikuti zamannya. Apakah semua ini terjadi karena orientasinya pendidikan pada human investing bukan profit and lost yang bernaung dalam osuatu wadah dan lembaga yang berembel-embel nirlaba, mungkin ini yang sering terjadi fenomena nasional disaat ingin maju dihadapkan dengan tantangan globalisasi semua sektor sehingga dari sistem mengalami beberapa kesulitan yang mungkin jalan keluarnya membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Berbicara sistem pendidikan negara kita seakan tidak ada habisnya dan selalu selesai berjungdi tengah perjalanan, hal tersebut dikarenakan setiap pimpinan berganti maka sistem dan kebijakan pendidikanpun akan berubah setiap bergulirnya kepemimpinan mereka, padahal sistem tersebut pada kebijakannya tak pernah terselesaikan namun selalu berganti. Hal ini seakan-akan mengindikasikan kebijakan dan sistem sebagai lahan proyek pencarian dana untuk kepentingan pribadi sebab setiap perubahan dan revisi kebijakan dalam sistem tesebut membutuhkan biaya yang cukup banyak dan mahal sehingga bisa menjadi menguntungka pihak terkait dengan relevansi kebijakan-kebiijakan pemerintah. Berdasarkan laporan terbaru unitednations development program (UNDP) yang dirilis tahun 2010 menyatakan bahwa indeks pebangunan manusia di Indonesia tetap buruk, tahun 2009 Indonesia menempati posisi ke-111 dari 175 negara. Tahun 2010 IPM Indonesia berada dalam urutan ke 110 dari 175 negara dan posisi tersebut tidak jauh dari tahun sebelumnya. Hal tersebut yang selalu menjadi pertimbangan dan juga pencarian solusi dalam rangka peningkatan kualitas yang lebih baik lagi. Reformasi pendidikan adalah upaya dalam bidang pendidikan. Reformasi memiliki dua karakteristik dasar yaitu terprogramdan sistemik. Sistem pendidikan terprogram menunjuk pada kurikulum/program sekolah atau program suatu institusi pendidikan. Selain itu hal ini juga masuk dalam inovasi pendidikan dan juga budaya sekolah tersendiri. Dari realita tersebut kiranya pemerintah bisa menyelesaikan beberapa konflik kebijakan dengan langkah dan cara sebagai berikut; mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatkan kemampuan akademik dan juga profesional,melakukan pembaharuan berbagai lapisan pendidikan.

Dalam prosesnya selama ini,kebijakan pendidikan seringkali memiliki beberapa perbedaan dengan realita yang kita rasakan, namun pada dasarnya kebijakan pendidikan ini mengupayakan perluasan pemerataan pendidikan yang bermutu bagi setiap elemen bangsa dengan peningkatan pendidikan. Dalam realitanya pemerataan diindonesia tidak sesuai dengan apa yang dicitakan bahkan sampai sekarang masih banyak sekolah-sekolah yang masih banyak tertinggal jauh dari standar yang direncanakan terlebih daerah pedesaan yang rata-rata semakin tertinggal dan terpuruk dari sekolah dan pendidikan yang berada di perkotaan. Diantara penyebabnya adalah kurang perhatian pemerintah terhadap daerah terpencil, dan juga penyusun kebijakan tersebut semuanya berasal dari perkotaan sehingga mereka mengacu pada daerah asal semua tanpa melihat keobyektifitasan kebutuhan pendidikan bangsa. Dari beberapa konsep dan batasannya,otonomi darah jelas menunjuk pada kemandirian daerah sehingga beberapa daerah sudah memaksimalkan wewenangnya dalam pengoyakan dan pemeliharaan daerahnya sendiri. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan, khususnya sekolah. Tujuan program MBS diantaranya menuntut sekolah dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan yang disusun secara bersama oleh komite sekolah. Relisasi hari ini, komite menghimpun dana masyarakat,termasuk dari orang tua siswa untuk membantu operasional sekolah dalam rangkai menggapai kualitas pendidikan. Pada dasarnya kebijakan pendidikan sangatlah dibutuhan lembaga penidikan agr bisa berjalan searah dalam cita-cita pendidikan nasional, akan tetapi seringkali kebijakan-kebijakan tersebut menjadikan terbengkalainya berjuta ketrampilan anak bangsa lantaran keputusan yang diambil hanya melihat gambaran umumnya. Oleh sebab itu kebijakan-kebijakan pendidikan yang bersifat internpun sangat diperlukan dalam rangka pengkayaan khazanah pendidikan dalam berideologi secara global dan penuh kreatifitasan skill, sehingga kualitas yang diharapkan bisa tercapai serta memiliki kekhasan tersendiri setiap daerah di Indonesia.

Minggu, 19 Februari 2017

Pendidikan

Pendidikan berbasis Uswah

     Pendidikan merupakan serangkaian proses kegiatan dalam jangka waktu tertentu yang menuntut adanya suatu perubahan secara pandangan dan juga skill bagi setiap obyek pendidikan yang melibatkan seubyek secara mendalam dan berpengalaman. Dalam bahasa inggris sering disebutkan bahwa pendidikan adalah perpaduan skill and knowledge yang menghasilkan seuatu produk yang disebut dengan akhlak dan kepribadian. Oleh karenanya proses pendidikan yang baik menurut salah satu pemikir islam adalah proses pendidikan yang berlangsung sejak pemilihan pasangan hidup, berperilaku dalam proses pembuatan anak, saat ibu sedanghamil, hingga sang anak lahir ke alam dunia yang fana’ ini. Sebagian pemikir pendidikan berpendapat jikalau kelancaran pendidikan akan dapat ditangkap secara murni ketika subpendidikan tersebut dilakukan dengan cara dicontohkan/teladan/uswah, sebab kekasih Allah SWT diciptakan dengan subyek yang menjadi keteladanan bagi umat manusia sehingga ketika pendidikan dilaksanakan akan semakin meyakinkan dan failid kebenarannay karena tahu apa yang sudah ada dalam asal muasalnya pendidikan yang menciptakan adanya suatu perubahan secara psikis dan fisik secara nyata teraktual.


     Dalam bahasa arab, pendidikan sering diartikan dengan TARBIYYAH, dalam lafal ini sering diartikan dengan berbagai macam pendapat sehingga sering disalah fahamkan oleh setiap penikmat bacaan dan juga minimnya pemahaman bahasa setiap penikmatpengetahuan semakin manambahkannya kekeliruan dsb. Seringkali kata tersebut disrempet-srempetkan dengan ketuhanan atau suatuhal yang terjadi termasuk dalam kehendaktuhan danjuga seubyektifitas penuh terhadap sang maha Pencipta Alam Semesta. Bukan hanya mematok pada setiap pemikir dan juga peneliti pendidikan, akan tetapi seringkalinya terjadi pada lapangan pendidikan yang sudah diterapkan dan ditekuni setiap pendidik tanpadisadari hanyalah sebatas teori tanpa adanya realita yang dapat dilihat oleh siswa/peserta didik. Peserta didik seringkali bingung dengan penerapan teori yang sudah diajarkan terhadap soal yang diberikan,juga dengan apa yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Pendidikan yang seimbang dan teratur tidaklah hanya dilaksanakansebatas teori ataupun nasehat baik, akan tetapi seorang obyek memerlukan adanya tindakan langsung sehingga target pendidikan bisa menirukan dan juga dapat mengaktualisasikan teorinya secara nyatadan lebih terpercaya lantaran pelihat ahli pendidikan secara langsung/teladan/uswah.