Tampilkan postingan dengan label Kitab & Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab & Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2024

Moderasi Beragama


            Agama senantiasa mengajarkan kita dalam hal apapun sejak kita bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan islam mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu dengan didasari pada kasih saying dan cinta. Yang pada ujung ajaran tersebut berada pada titik saling menghargai, toleransai bahkan moderasi terhadam sesame atau bahkan terhadap agama selainnya. Coba kita lihat satu persatu dalam ajaran islam diajarkan :

وَما اَرْسَلْنَاكَ إلاّ رَحْمَةً للْعَالَمِيْنَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.’’ (QS Al-Anbiya’: 107) . lslam merupakan agama yang universal, ajarannya mengedepankan kasih sayang, kebaikan kepada seluruh alam semesta.

Dalam agama Budha diajarkan Sabbe satta dukkha pamuccantu yang berarti semoga semua makhluk bebas dari penderitaan. Dengan ini ajarannya yaitu Metta / cinta kasih yang bersifat universal.

Agama Kristen juga mengajarkan Shalom aleichem” yang artinya semoga kedamaian selalu menyertaimu.

Agama Khonghucu mengajarkan “Chung yung”, yaitu sikap selalu di tengah-tengah antara hidup berlebih-lebihan dan kekurangan yang dapat memberikan keseimbangan terhadap kehidupan

Ajaran Hindu dalam berbagai pusakan suci mewajibkan menerapkan panca pilar yaitu Satya (nilai kebenaran), Dharma ( Kebajikan), Shanti (Kedamaian), Prema(Cinta Kasih),  dan Ahisma (anti Kekerasan).

Bahkan Rasulullah SAW bersabda dalam kitab Arba’in Nawasi :

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. Dengan kasih sayang yang universal.

Ismal sendiri hadir sebagai agama yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi atau sifat moderat dalam beragama, tidak memandang diluar diri sendiri sebagai ajaran yang salah, melainkan dengan saling menghargai terhadap umat manusia selainnya. Bahkan perbedaan yang sudah ada ini memang sudah diciptakan oleh Allah SWT bukan untuk salih dislaahkan bahkan justru harus kita gunakan untuk saling mengenal satu sama lain dan saling menghargai tanpa harus ada rasa benci dan bahkan wajib untuk dihargai. Allah SWT berfirman

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Al Hujurat : 13)

Dalam kitab tafsr jalalin dijelaskan bahwasanya kata الناس dalam ayat tersebut menunjukkan universalan bagi seluruh manusia memang diadakan oleh Allah SWT dengan tujuan semua manusia yang ada disemesta dicitakan dengan sisi perbedaan yang sangat banyak adal agar saling mengnal dan mengerti satu sama lain, sehingga sikap moderat lah yang bisa mengantarkan kita untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Islam juga mengajarkan nilai persaudaraan yang dikatakan mbah KH. Hasyim Asy’ari ada 3 ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathoniyyah dan ukhuwah basyariyyah. Hal ini menunjukkan bahwa saudara bukan sekedar kita yang sesame agama tetapi juga kita yang sama kebangsaannya/negaranya, dan juga saudara sesame manusia. Bahkan Mbah KH Hasyim Asy ‘Ari sangat tidak suka jika ada satu kelompok yang menyalahkan satu sama lain.

Terlebih kita sebagai generasi wanita yang berakidahkan Ahlussunnah Waljama’ah dibawah naungan Nahdlatul ‘Ulama sangat penting menghiasi diri dengan sikap moderasi, mengenakan gelang kasih sayang terhadap sesama manusia, mengenakan kaca mata terhadap umat beragama, sehingga tidak saling menyalahkan bahkan menjatuhkan.

Dari beberapa uraian diatas bisa disimpulkan bahwasanya moderasi beragama atau sifat moderat yang tengah tengah dalam hidup beragama sangatlah penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih semua agama yang ada di Indonesia pada dasarnya mengajarkan satu inti yang sama yaitu dengan saling mencintai dan menyayangi serta mengasihi terhadap sesama manusia, dan tak sepantasnya untuk saling membenci apalagi sampai memusuhinya. Dengan prinsip akhir kita yang penting

 لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ      bagimu agama mu bagiku agamaku. Sehingga kita bisa saling menjaga dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Kamis, 26 Mei 2022

episode 2

 

Berkembangnya kehidupan dan para utusanpun sudah meninggal kehidiupan maka yang tersisa hanyalah para sahabat yang dulunya menemani sangutusan menuebarkan agama islalm, sehingga mereka mengabadikan bahkan menuliskan setiap perilaku, perkataan dan perbuatan sampai pada kebiasaan Nabi hngga disebut dengan hadits atau sunnah. Semua penjelasan isi dan kandungan pernah dijelaskan oleh sang Nabi bahkan termasuk dengan tatacara dan pola kehidupan yang baik dan benar sehingga jasmani dan rohani memiliki kesehatan yang seimbang. Pada saat itulah para manusia muslim mengambil sumber ilmu penngetahuan juga syariat dalam kehidupan bersumber pada wahyu Allah SWT (AlQur’an) dan hadits nabi Muhammad SAW.

Sejak saat itu ketika manusia belajar dan ingin mengetahui ilmu pengetahuan semua sumbernya lewat Al Qur’an dan kemudian dijelaskan juga menjadi sumber yang kedua pada isi kandungan hadits Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh dan terperinci sesuai dengan para sahabat tterima dari sang Utusan. Kehidupan para sahabat ini memiliki peranan yang besar dalam penyebaran wahyu Allah pada segenap manusia di alam semesta, hal ini sebagaimana dilakukan oleh sahabat Utsman Bin Affan yang membukukan Al Qur’an menjadi beberapa jilid dan bentuk kemudian disebarkan ke Negara-negara lain di semesta. Sehingga sampai sekerang terkenal dengan model penulisan Al Qur’an yang disebut dengan Rasm Utsmany. Para sahabat ini selama hidupnya juga memiliki orang yang setia mengikuti ajaran dan fatwa yang dianjurkannya sehingga mereka disebut dengan kaum tabi’in yang diikuti dengan setelahnya bernama tabi’ittabin sampai terus menerus sampai pada kehdiupan manusia sekarang yang disebut dengan tabi’it tabi’it tabi’it tabi’it …..tabi’in. saat itulah manusia manusia menerima ajaran secara menyeluruh dari manusia muslim hingga diantatra mereka yang cerdas dan mahir dalam ilmu agamanya menuliskan karya-karyanya dengan rincian dan dasar pada wahyu dan juga sunnah, sebab tidak semua manusia memiliki kemampuan dan kecerdasan yang sama tinggi dalam memahami dan mengerti pada sumber ilmu tersebut.

Usai perkembangan ilmu pengetahuan mulailah banyak manusia manusia yang memiliki ilmu agama kemudian mereka memfatwakan apa yang dipelajarinya terhadap manusia yang masih ‘awam. Sehingga mereka disebut dengan ‘Ulama atau manusia yang memiliki ilmu. Semakin banyaknya manusia yang ‘alim baik memililki karya kitab ataupun tidak namun mereka khawash dalam keilmuannya, mereka berkumpul dan musyawarah memutuskan suatu hokum kehidupan setelah para sahabat dan tabi’in meninggal dan keluarlah fatwa hingga disebut dengan ijma’ (kesepakatan ‘ulama). Dalam ijma’ ini berisi terkait dengan hal penting dalam kehidupan mulai dari hokum perilaku dan melakukan sampai dengan ketetapan pada halal, haram, sunnah, dan kemakruhan setiap perbuatan manusia. Dalam menjadikan dasar hidup manusia ijma’ memiliki posisi ke tiga setelah Al Qur’an, hadits, baru ijma’. Kekmudian dengan semakin berkembangnya pola hidup manusia dan semakin banyaknya hal yang yang sama namun berbeda maka kemudian diusung sebuah dasar para nahdliyyah yang  disebut dengan Qiyas. Pada hal inilah qiyas berbicara terkait dengan hokum permasalahan dimana hal perilku ucapan bahkan kebiasan manusia yang serupa dan mirip namun tidak sama sehinngga perilaku diperbolehkan dan tidaknya sesuai dengan dasar pada Al Qur’an, sunnah, ijma’ dan Qiyas. Sehingga kehidupan maunusia pun bisa aman, adil dan sejahtera membentuk kehidupan yang  بلدة طيّبة وربّ غفور.

Pada kehidupan yang penuh dengan aneka perkembangan permasalahan, kebutuhan juga hal yang menunjang kehidupan manusia khusus dan pada umumnya keempat landasan ini  bisa dijadikan sebbuah ukuran kebaikan atas perilaku juga ilmu pengetahuan yang memang pada dasrnya sumber pada wahyu Allah kemudian dijabarkan lewat sunnah, ijma’ dan qiyas.

Kamis, 19 Mei 2022

Selayang Dasar Ilmu

Pencermatan Ilmu

Pada awalnnya manusia mencermati keilmuan hanya berdasarkan pada wahyu Allah dan menyampaikannnya sesuai dengan apa yang ada dalam redaksi firman tersebut, namun pada kenyataannya tidak semua manusia mulai dari yang ‘awam, wasath, khash, sampai pada derajat khawashul khawash  memiliki pemahaman dan kemampuan serta kecerdasan yang sama. Mungkin bagi para kaum khash dan khawashul khawash apa yang dipahami bisa sejalan dengan maksud yang ada dalam redaksi tersebut sebab kemapana ilmu, pikiran dan sarana prasarana dalam memahami keilmuan dalam wahyu NYA. Keadaan ini sempat memperkacau keadaan kehidupan dan bahkan semakin banyak manusia dengan sekedarnya bahkan seenaknya sendiri dalam mengambil dasar keilmuan terhadap pemahaman dirinya sendiri terhadap firman sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka juga kelompoknya. Sebab terlalu memaksakakn kehendak dirinya dalam mengetahui makna dari wahyu dan makna yanng dikehendaki oleh Allah SWT sedangkan mereka tak memenuhi syarat tertentu dalam melakukan itu. Hingga pada akhirnya melahirkan penafsiran penafsiran firman Allah SWt sesuai dengan akal manusia yang diseebut Tafsir Bir Ra’yi dengan segenap perangkat kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sebab dalam memahami keilmuan ini bir ra’yi cenderung dan banyak mengambil hasil pemaknaannya sesuai dengan kemmampuan berpikirnya sendiri saja tanpa mengambil perangkat keilmuan atau dasar keilmuan yang lainnya tannpa adanya dalil dalam mencermati keilmuan yang ada dalam wahyu Allah  SWT. Namun pencermatan keilmuan dalam Al Qur’an dengan akal pikiran yang murni bisa jadi diterima keautentikannya selam terhindar  dari beberapa hal berikut :

·         Memaksakan makna yang dikehendai Allah SWT tanpa ada nya kemapanan keilmuan diri

·         Mencoba memaknai ayat yang maknanya menjadi otoritas Allah SWT (الم ,حم,يس,,,,,الخ,,,dll)

·         Mencermati dengan berdasarkan hawa nafsu

·         Mencermati keilmuan makna yang ada dalam wahyu yang maknanya demikian tanpa adanya dalil yang jelas.[1]

Dengan terjadinya beberapa fenomena yanng tidak memungkinkan dalam kehidupan keilmuan, maka pencermatan keilmuan kemudan pengambilan dasarnya dan pokok pembahasannya tidak lagi hanya pada pokok diatas, namun dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan pada sunnah/hadist Nabi Muhammad SAW sebagi bentuk pencermati keilmuan dan memudahka dalam mencermati keilmuan-keilmuan yang ada dalam firman Allah SWT lewat sunnah/hadits Nabi Muhammad SAW….

Next…



[1] Adz-Dzahabi,op cit At Tafsir…. Hlm. 275

Kamis, 12 Mei 2022

Pembinaan Akhlak

 

Membina Akhlak Dalalm Bingkai Keanekaragaman

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan dan bentuk jasad yang berbeda baik dalam rupa atau keruhaniannya atau bahkan tentang keberagaman latar belakang masyarakat dan keluarganya, akan tetapi perwujudan itu diadakan oleh Yang Maha Ada bukan dengan maksud untuk saling menjatuhkan dan merendahkan namun dengan tujuan agar manusia itu bisa saling mengenali dan memahami sehingga mereka bisa memposisikan diri dalam perilaku atau bahkan berkomunikasi setiap hari.

Dalam menerima dan memperlakukan manusia, setiap pribadi harus dibiasakan dan diberikan teladan / contoh perilaku yang bersifat continue atau terus menerus dengan selalu menempatkan dirinya sendiri merasa membutuhan terhadap pribadi diluar dirinya. Pembinaan ini bersifat end to end atau hanya mereka yang dibina dan yag membina saja yang mengetahuinya agar benar-benar focus arah dan tujuannya sehingga ketika laku yang continue itu dirujuk pada pendasaran perilaku bisa sesuai tanpa menimbulkan seteru. Hal ini mendasar pada maksud dari akhlak yang disebutkan خلق dengan arti perangai, watak dasar, kebiasaan, tingkah laku/perilaku, atau sering dinisbatkan dengan akhlakul karimah atau budi pekerti.[1] Hal ini yang mendasari bahwasanya akhlak merupakan sifat dasar yang berasal dari kebiasaan sehari-hari manusia sebagai proses pembentukan karakter atau kepriadian yang pada akhirnya tidak ada pertimbangan kembali dalam melakuannya sebab sudah diyakini kebenarannya dari naluri yang dibentuk dan dibiasakan setiapp harinya, baik dengan output yang baik atau buruk sebab sudah terbentuk dalam diiri manusia tersebut.[2] Sebab akhlak yang asli dalam dirinya meman tidak bisa terbentuk secara spontan dan tiba-tiba melainkan harus melalui proses dan pembiasaan setiap hari dengan pembinaan tiada henti.

Pada sisi lain manusia sebagai sifat dasar dari Tuhan yang menciptakan penuh dengan keaneka ragaman dan perbedaan yang sangat kompleks atau bahkan sangat menonjol dan sensitive dibicarakannya, secara naluri menuntut manusia untuk bisa erdas dalam berperilaku dan kecerdasan perilaku tersebut secara spontan akan tumbuh ketika mereka benar-benar sudah tertancap perangai yang baik dalam dirinya. Meski memang terkadang yang membicarakan pun merasa diruikan dalam penyampaian sebab pengalaman yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya namun jika memang itu kebenarannya maka harus disampaikan adanya.

Dengan bingkai atau wadah keanekaragaman inilah yang seharusnya menjadi titik dasar penghargaan manusia terhadap satu pribadi yang menjalani ataupun yang memberikan kospensasi atau menilai kebenaran laku dalam pembinaan diri, sebab adanya ketidak sesuaian yang sekarang oleh diri sebenarnya menjadi jalan yang sedangg ditempuh dalam mengembangkan prbadi yang lebih baik dan benar lagi, sedang  mereka yang memandatkan pribadinya pada pola pembinaan yang dijalankan tak sepantasnya memberikan hujatan atau penghakiman balaka namun harus memberikan penngertian pada yang bersangkutan tentang sebenarnya yang sedang dilakukan.

Pada kesadaran inilah manusia bisa membentuk pribadi yang lebih baik lagi sesuai dengan karakter akhlak yang sampai pada derajat karimah sebab diantara mereka saling menghargai dan mengerti. Dan yang palng penting adalah bisa saling menjaga lakunya sesuai dengan keyakinan yang dijalani selama ini tanpa hujatan atau bully ketika meembbersamai mereka dalam prosesnya sehingga wujud perbedaa yang dimiliki benar-benar dihargai tanpa membentrokan keanekaragaman yang dijadikan wadah dalam membentuk pribadi. Dengan kunci utama pembiasaan, penjagaan, serta penghindaran masalah kepribadian dalam menjalankan.



[1] Jamil Shaliba, al Mu’jam al Falsafi , Juz I, hlm. 539

[2] DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA, Akhlak Santri, Ulama (kyai/guru) & Wali Santri), hlm 8-10

Minggu, 13 Desember 2020

Metode Tafsir

 Tafsir Tahlili

 “Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).”

 

Metode penafsiran yang digunakan dalam menafsirkan ayat ini adalah tahlili atau analitik, yang merupakan penafsiran dengan melihat dan menafsirkan setiap kosakata, menjelaskan isi kandungan, serta menunjukan kandungan agar bisa untuk dipahami seetiap orang yang membaca. penafsiran tahlili selalu condong pada maksud kandungan yang tersimpan dalam ayat sehingga setiap makna dan penafsirannya ditujukan untuk orang yang tahu dan memahami bisa melaksanakannya.

 

 

 

 

Jumat, 26 Juni 2020

Kisah Abdurrahman Bin 'Auf

        Merupakan salah satu sahabat nabi yang hidup pada masa nabi sekitar tahun 300 H menemani Nabi Muhammad SAW sejak berada di Makkah hingga hijrah bersama menemani hirah nabi bersama sahabat lainnya untuk berhijrah ke Madinah. Hingga terkenal sebagai sahabat yang perwira, sederhana, memiliki bakat berniaga yang bagus, dan selalu jujur dalam perdagangan, meskipun hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. Hal itu dikisahkan ketika kaum Muhajirin datang bersama nabi ke Madinah dan disambut oleh kaum Anshor  hingga Nabi Muhammad SAW pun mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Salah satunya adalah Abdurrahman Bin 'Auf yang dipersaudarakan dengan kaum Anshor yang memiliki istri lebih dari satu dan memiliki harta juga kekuasaan yang melimpah, dan hartanya pun terbilang tidak ada habisnya. Sahabat Anshor itu yang nantinya menanggung biaya hidup Abdurrahman Bin 'Auf selama di Madinah layaknya saudara kandung sendiri yang bertemu darah keturunannya. Sahabat Anshor itu menawarkan Abdurrahman  untuk memiliki salah satu istri dari anshor itu, dan diberikan beberapa ternak dan wilayah untuk berusaha dan berkebun, namun mulianya abdurrahman bin'Auf dengan kerendahan hati beliau tidak mau menerima semuanya itu dan bahkan istrinya itu tetap pada suaminya, dan hanya menanggung kehidupan Abdurrahman Bin 'Auf di Madinah. Hingga sahabat Anshor itu memasrahkan beberapa usahanya untuk diolah Abdurrahman Bin 'Auf dan diolah nya dengan sangat baik, sebab basic beliau juga yang jiwa niaga yang sangat baik, selain itu Abdurrahman Bin 'Auf dalam berdagang selalu jujur dan lebih memilih jual beli secara kontan meskipun keuntungannya hanya sedikit, namun dengan jiwanya yang seperti itu justru semakin banyak orang orang madinah yang menyukainya dan semakin lama perdagangannya juga semakin berkembang dan maju dari yang kecil hingga menjadi usaha yang sangat besar, semua itu sebab beliau yang sangat sederhana dan jujur serta kontan meski keuntungannya sedikit bukan semakin bangkrut akan tetapi semakin maju dan berkembang.
       Begitulah sekilas kisah istimewanya sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Abdurrahman Bin 'Auf yang sangat luar bisa dan patut untuk dijadikan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari khususnya kaum muslim pada umumnya.


by: Moh. Zaki Jamaludin
قصة في الكتاب كيف تكون غنيا

Tiga Kategori Pencari Ilmu

Menurut Imam Nawawi Al Bantani

Pertama, manusia yang mencari ilmu dengan tujuan agar ilmunya menjadi bekal untuk akhirat, dan kembali kepada Allah SWT, baik melalui dunia dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi serta meninggalkan apa yang dilaranganya.

Kedua, orang menuntut ilmu dengan tujan agar ilmunya digunakan sebagai alat untuk menopang kehidupannya di dunia yang sementara. yakni mereka mencari ilmu agar kehormatan, harkat dan martabatnya dipandang tinggi dan disegani oleh lingkungan sekitarnya. Dan iapun menyadari betapa hinanya dengan tujuan mencari ilmu dan diraihnya ketika mendapatkannya.

Ketiga, Manusia yang menuntut ilmu yang mana ia dikuasai oleh setan sehingga menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperbanyak meteri dalam kehidupan di dunia, membanggakan kedudukan, memamerkan kekuasaan diri dengan banyaknya pengikut. Ia pun menjadikan ilmunya seabagai alat untuk menipu dan memperdya orang banyak demi mencapai keinginan keinginan duniawinya saja.


cc: Kitab Bidayatul Hidayah : Syaikh Nawawi Al Bantani


By: Moh. Zaki Jamaludin

Selasa, 23 Juni 2020

كيف تكون غنيا عند العلماء

    Mencari rizki merupakan suatu kwajiban bagi setiap manusia yang berkehidupan di dunia demi manafkahi diri sendiri, orang tua, keluarga, istri, anak, orang tua. Sungguh Allah SWT menjadikan tandangan atau melakukan beberapa sebab yang digunakan dalam rangka mencari reseki sebagai ibadah yang disukai dan memberikan ganjaran atau pahala bagi mereka yang tekun untuk menjalankannya., Rasulullah SAW juga bersabda ان الله يحب المؤمن المحترف . kemudian bagi mereka yang berniatan baik dalam mentujukan atau bertujuan yang baik dalam mencari rejeki yakni bekerja, maka hal itu bagi dirinya semakin terjunjung tinggi derajatnya dan dikatakan sabilillah  dihadapan Allah SWT, selain itu juga Allah SWT memberikan keutamaan tersendiri bagi mereka dan juga memberikan keberkahan dalam kehidupan mereka.sebab وكل ميسر لما خلق له. Bagi mereka yang menggerakkan badannya untuk bekerja / mencari rezeki yang dalam gerakan itu menunjukkan sifat kerjaan itu menuju pada perkara yang haqq atau jelas dan benardengan memberikan batas-batas, membenarkan kesopanan (kebijaksanaan) dalam perdagangan.. Al kasbu ditetapkan pada beberapa bagian diantaranya yakni al kasbu yang dipuji adalah pekerjaan yang ketika dilakukan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dan dalam bekerja manusia harus memberhenikannya ketika hal itu bertentangan dengan syari'at atau aturan Allah SWT, sehingga pekerjaan itu bisa dikategorikan pada yang ukan kehalalan, dan jika itu sesuai dengan syariat  juga maka itu menjadi kehalalan untuk pekerjaannya. Dari gerakan yang terpuji dalam bekerja maka hal itu menjadi luhur dan menjunjung tinggi derajatnya.
         Bekerja secara tertib dalam gerakan pekerjaan itu dengan mencari pekerjaan yang halal maka menjadi kwajiban tersendiri untuk menjaga dan kwajiban untuk menafkahi diri sendiri, selain itu juga wajib menafkahi istrinya dan menyunnahkan terhadap kedua orang tuanya sebagai bentuk kwajiban seorang anak. Jadinafkah itu bersifat wajib terhadap diri, istri, dan orang tua.

Berikut adalah Kunci Rizki dan menjadi sebab" untuk kaya

 1. Taqwa dan istiqomah
2. Bersyukur
3. Melanggengkan Al Qur'an (sering membaca Alqur'an)
4. Dzikir
5. Do'a
6. Istighfar
7. Shalawat kepada Nabi
8. tidak meninggalkan Shalat
9. Shodaqoh
10. Shilaturrahim
11. Berakhlakul karimah
12. Khidmah
13. Hati' dalam bekerja


Terimakasih Semoga Bermanfa;at.





By: Moh. Zaki Jamaludin

Rabu, 03 Juni 2020

Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan

          Banyak oranga yang menginginkan kesempurnaan dalam beribadah, namun mereka tidak tahu cara meraihnya. Bahkan banyak mereka yang tidak tahu bagaimana dan seperti apa ibadah yang sempurna itu, telinganya hanya mendengar orang sekitaar yang mengatakan terkait peribadatan yang sempurna namun sungguh mereka tak mengetahuinya. Padahal ibadah yang dilakukan dengan harapan menuju kesempurnaan berarti kita merupakan salah satu cara agar kita mendapatkan hidayah inayah Tuhan semesta...
          Setiap manusia melakukan peribadatan yang dianggap sesuai dengan hati dan juga lingkuan yang tentram ketika melekukannya, sehingga dalam menuju kehadirat Tuhan semesta seringkali banyak pendapat yang dipertengkarkan oleh setiap imam atau pimpinan kelompok orang yang ssma-sama ingin menuju kehadirat Tuhan semesta. Lewat syariat yang sudah dijalankan dan dibudayaka, oleh karenanya kita dituntut untuk melaksanakan ibadah dasar sesuai dengan pedoman yang sudah distariatkan sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh utusan Tuhan pada masanya seperti Nabi Nabi yang diberiikan firman Tuhan mereka menitikan ajarannya hingga  pada sampai pimpinan sestiap kumpulan yang diisyaratkan pada manusia di zamannya.. 
        Salah satu syariat yang dipergunakan sebagai identitas dari kemelut dari kehidupan adalah shalat yang dalam sehari manusia mengerjakan lima kali tuk dikerjakan, namun terkadang kita menjalanakan hanya sebagai cara tuk menggugurkan kwajiban makhluk yang bertuhan, padahal sebenarnya ibdah itu sungguh rumit adanya dan memiliki kerumutan rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya. Mungkin kita merasa sombong dengan mengetahui keterangan-keterangan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga menjadikan diri kita sewenang-wengang dengan makhluk Tuhan lainnya bahkan terkadang kepada sesama manusia sang berkebutuhan sama, namun dengan memiliki jabatan yang lebih tinggi dan dan masa yang lebih lama menjadikan kita selalu menebar keangkuhan terhadap orang yang datang baru saja dan pangkat sosialnya lebih rendah darinya. Harusnya kita juga tahu jika dulu nenek moyang kita dan jin pernah berkisah sebab kemurkaan Tuhan yang menjadikan mereka diusur dari surga NYA sebab kesombongan dan keangkuhan jin yang meranda sebab merasa diri paling paling dari makhluk TUhan yang lainnya. Mungkin juga kita pernah mendengar salah satu kisah dulu zaman sahabat Nabi terkait orang yang setiap harinya berbuat kemungkaran mencuri, merampok, dan bertindak kejahatan pada sesama manusia namun ternyata tanpa diketahui orang lain disetiap malam ia selalu shalat dengan khusyuk dengan jumlah rakaat yang banyak, shalat taubat dan memohon ampun akan dosa pada pagi hari dan itu berjalan setiap malam kehidupanya, hingga pada masanya ia meninggal dalam keadaan shalat bukan pada berbuatan dosa, namun ia sungguh mulia dihadapannya. berbeda dengan salah satu kisah orang yang dulunya menyerukan untuk amar maruf nahi munkar untuk manusia lainnya namun siapa sangka ia pada akhirnya tertangkap dengan melakukan dosa secara berurutan dalam satu waktu, yakni meminum khamr, memperkosa perempuan, dan juga karena takut diketahui orang lain akhirnya perempuan itu puun dibunuhnya, padahal ia setiap harinya berbuat pahala mungkin dimata manusia namun kehendak Tuhan dengan menggoda ternyata iapun seperti yang terjadi dari dirinya.
         Oleh karenyanta sebaik apapun kita dan seburuk apapun kita dan sebaik apapun kita jangan sampai kita berbuat angkuh apalagi sombong seakan paling baik dihadapan Tuhan padahal ternyata semua itu masih ditutup Tuhan akan keburukan dirinya, padahal lebih rendah dari yang disombngkannya. waspadalah kita untuk itu semua dengansaling menghargai sesama manusia baik yang labeklnya mungkin penuh dosa ataupun alim depan mata maka kesetaraan pergaulan kita perlu dilakukan setiap kehidupan di dunia. terimakasih.











                                  by: Moh. Zaki Jamaludin

Kamis, 24 Oktober 2019

review kitab

REVIEW KITAB
MAJMU’AT AL-SYARI’AH AL-KAFIYAH LI AL-‘AWAM KARANGAN KH. SHOLEH DARAT

  1. PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Hal yang melatar belakangi KH Sholeh darat menulis kitab majmu’at al- syr’iah al-kafiyah li al-‘awam adalah untuk menfasilitasi masyarakat awam khususnya di jawa yang ingin mempelajari islam yang mana Kebanyakan dari mereka kesulitan, bahkan tidak mampu memahami teks-teks agama dalam bahasa Arab. Sementara di sisi lain, kitab-kitab berbahasa Jawa saat itu masih sangat terbatas. Para ulama di Jawa pada saat itu lebih suka menulis dengan bahasa Arab, terutama dalam bidang fiqih. Oleh karenanya, Kiai Sholeh Darat mencoba memahamkan ajaran agama kepada masyarakat dengan jalan menulis kitab fiqih praktis dalam bahasa Jawa.

  1. DESKRIPSI KITAB

  1. JUDUL KITAB
Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam.

  1. BIOGRAFI PENULIS
Nama lengkapnya adalah Muhammad Sholeh Ibn Umar, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat. Disebut Kiai Saleh Darat karena, sepulangnya dari Haramain, dia tinggal dan mendirikan pesantren di kawasan darat, semarang. “Darat” adalah suatu daerah dekat pantai utara Semarang, tempat mendarat kapal-kapal dari luar Jawa. Adanya penambahan nama semacam ini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jawa dalam menyebut orang-orang terkenal.
Kini, secara administratif daerah “Darat” masuk dalam wilayah kelurahan Dadapsari kecamatan Semarang Utara. Versi populer mengatakan Sholeh Darat lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar tahun 1235 H/1820 M. Sementara versi lain mengatakan Kiai Sholeh Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ayahnya, Kiai Umar adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan dan orang kepercayaan pangeran Diponegoro.
Sebagai seorang anak kiai, masa kecilnya dihabiskan dengan belajar agama kepada ayahnya sendiri dan sempat belajar kepada beberapa kiai di Jawa. Pengembaraan ilmiah Sholeh muda mengalami lompatan yang signifikan ketika ayahnya mengajaknya berangkat ke mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya kemudian wafat di Mekkah dan ia memutuskan menetap di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Di sana, ia belajar berbagai kitab-kitab besar dari para ulama’ haramain bersama-sama dengan para ulama Nusantara, seperti Kiai Nawawi Banten. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia ke Mekkah dan kapan kembali ke tanah air.
Sepulang dari dari Mekkah, Ia diambil menantu oleh Kiai Murtadla, teman seperjuangan ayahnya sebagai prajurit Diponegoro dan dijodohkan dengan Shofiyah. Sejak saat itulah Muhammad Sholeh menetap di Semarang dan masih melanjutkan menuntut ilmu lagi kepada beberapa orang ‘ulama’, serta mendirikan pondok pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darat. Dalam perkembangannya, pondok ini telah melahirkan banyak ulama’ dan tokoh Nusantara. Nama-nama besar seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan merupakan anak didik Kiai Sholeh Darat. R.A. Kartini, pahlawan nasional dan tokoh emansipasi wanita Indonesia juga pernah berguru kepadanya. Bahkan, konon kitab tafsir Faidh al-Rahman disusun atas permintaan Kartini dan menjadi hadiah pernikahan Kartini.
Kiai Sholeh Darat termasuk salah seorang ulama’ yang produktif di zamannya. Selama hidupnya ia telah menghasilkan berbagai karya dalam bidang keislaman meliputi teologi, fiqih, tafsir, Ulum al-Qur’an, dan tasawuf. Gagasan keislamannya dapat ditemukan dan dijumpai hingga saat ini dalam berbagai karyanya yang berjumlah kurang lebih empat belas buah.
Yang menarik, seluruh karya-karya yang dihasilkannya tidak ada satupun yang menggunakan bahasa Arab, melainkan bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Arab Jawa (Arab Pegon). Keunikan bahasa yang digunakan dalam karya-karya tersebut menempatkan Kiai Sholeh Darat sebagai salah satu pelopor penulisan kitab-kitab keislaman berbahasa Jawa dan satu-satunya ulama’ di akhir abad ke-19 yang karya tulisnya berbahasa Jawa. Bahkan, tafsir Faidh al-Rahman karyanya dalam bidang tafsir adalah kitab tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon.
Kiai Sholeh Darat wafat di Semarang pada hari Jum’at Legi tanggal 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M, dan di makamkan di Pemakaman Umum Bergota Semarang. Jika melihat tahun kelahiran dan wafatnya, maka dapat diperkirakan umurnya mencapai kurang lebih 84 tahun. Kiai Sholeh dikenal mempunyai komitmen dan kepedulian sosial yang sangat tinggi terutama terhadap problematika keagamaan masyarakat awam.

  1. UKURAN KITAB
Jika dibandingkan dengan kitab-kitab fiqih yang lain kitab ini lumayan tipis dimana terdapat 279 halaman.

  1. TEMPAT DAN TAHUN TERBIT KITAB
Naskah asli kitab Majmu’ ditulis oleh Jazuli, seorang juru tulis Kiai Sholeh Darat pada tahun 1309 H atau1892 M dan dicetak pada 1897 di beberapa tempat, seperti Singapura dan Bombay, Hingga saat ini, kitab Majmu’ karya KH. Sholeh darat masih dicetak oleh beberapa percetakan tanah air semisal Toha Putra yang berpusat di Semarang.

  1. STRUKTUR PENULISAN DAN PEMBAHASAN
Dari segi sistematika, pembahasan materi pada kitab ini diawali dengan muqaddimah yang dilanjutkan dengan pembahasan rukun iman, islam, dan beberapa kewajiban muslim dalam hal aqidah. Dalam bingkai bab muqaddimah itu pula, kiai Sholeh menyisipkan materi akhlak seperti kewajiban seorang muslim untuk menjauhi dosa besar dan kecil. Pada bagian kedua, pembahasan difokuskan pada teori-teori fiqih meliputi ibadah, mu’amalah, munakahat, hudud, bahkan I’taq (pembebasan budak).
Sedangkan dalam hal pembagian bab dan sub-bab, meskipun kitab Majmu’ ini berbahasa Jawa, tetapi tetap mengacu pada pembagian bab kitab klasik dan menggunakan bahasa Arab sebagai judul bab atau sub-bab. Umumnya kitab-kitab salaf selalu menggunakan istilah kitab, bab, atau fashl untuk membagi dan membatasi bab dari yang umum sampai yang rinci. Akan tetapi, tidak ada keseragaman dalam sistematika penulisan kitab salaf, karena setiap penulis punya selera masing-masing.
Dalam kitab Majmu’, “Kitab” merupakan istilah yang dipakai oleh Kiai Sholeh Darat untuk mengemukakan pokok bahasan seperti kitab al-shalat, kitab al-shaum, kitab al-nikah. Pokok-pokok bahasan tersebut kemudian dirinci dengan pasal-pasal tertentu seperti pasal tentang syarat shalat atau pasal tentang syarat puasa. Ada juga beberapa pokok bahasan yang dirinci dengan bab-bab tertentu, seperti kitab nikah yang di dalamnya memuat bab keharaman dalam pernikahan atau kitab haji yang di dalamnya memuat bab ihram. Namun, dalam kesempatan lain istilah bab juga digunakan untuk mengemukakan pokok bahasan, seperti bab al-bai’ wa ghairihi, sementara di tempat lain istilah kitab justru digunakan untuk sub-pokok bahasan, seperti kitab al-qardhi, dan kitab al-ijarah yang biasanya masuk dalam kategori jual beli dan mu’amalah lain. Di sini ada semacam kerancuan dalam penggunaan istilah kitab, bab, dan pasal dan pembagian antara pokok bahasan dengan sub-pokok bahasan.
  1. KANDUNGAN KITAB
Dalam kitab ini terdapat 7 kitab pembahasan ditambah dengan muqaddimah, pertama kita bahsa tentang muqaddimah dalam muqadiimah terdapat terdapat 11 fasal dan satu bab tanpa ada keterangan judul hanya tertulis fasal dan bab saja.
Kedua, kitab tentang sholat, dalam pembahsan ini terdapat 3 fasal tanpa judul dan 14 fasal dengan judul serta terdapat 7 bab pembahsan.
Ketiga, kitab puasa, dalam pembahasannya terdapat 2 fasal tanpa judul 3 fasal dengan judul tanpa adanya bab.
Keempat, kitab Haji dan Umrah, dalam kitab ini terdapat 11 fasal dengan judul dan 8 bab.
Kelima, kitab halal dan haram terdapat 1 fasal dan 4 bab.
Keenam, hanya bersisi satu kibab yaitu tijarah
Ketujuh, kitab hukum nikah, dalam kitab ini terdapat 16 fasal dengan judul dan dan 6 bab.
Kedelapan, kitab i’taq dalam kitab ini hanya terdapat 1 bab tanpa adanya fasal.
Jadi total keseluruhan kitab majmu’ al syariat al kafiah li al awam terdapat 7 kitab ditambah satu muqaddimah, 27 bab, 61 fasal 17 diantaraya tanpa ada keterangan judul dan 44 dengan judul. Ada tambahan satu lagi diaman dia tidah termasik kitab, bab dan fasal yaitu fadilatu al haj wal umrah.

  1. KARAKTERISTIK DAN UNSUR LOKALITAS KITAB
Kitab ini tidak terlalu susah difahami dikarenakan sasaran dari kitab ini merupakan seseorang yang ingin mempelajari islam dan masih mendasar sehingga kata-kata dari kitab ini mudah di fahami dan mudah di serap oleh orang awam terkhusus para muslim awam di daerah jawa. Dengan memuat bahasa lokal yakni bahasa jawa dengan tulisan pegon sebagai bahasa utama dari kitab ini yang tentu sangat memudahkan bagi masyarakat awam yang tidak bisa berbahsa arab.



  1. KOMENTAR
Menurut kami pemakalah, kitab ini sangat membantu untuk kaum awam yang tidak bisa berbahasa arab akan tetapi didalam metode pembahasanya kitab ini tidaklah terstruktur dala urutan pembahasanya diman hal itu dapat membuat pembaca akan merasa kebingungan lebih lebih mereka yang sudah terbiasa dengan kitab arab yang sduah tersebar seperti kitab fathul qarib dll, diaman semuanya terstruktur dalam segi pembahasannya.




LAMPIRAN LAMPIRAN