Senin, 08 Juli 2024
Minggu, 21 April 2024
Moderasi Beragama
Agama senantiasa mengajarkan kita
dalam hal apapun sejak kita bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan islam
mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu dengan didasari pada kasih saying dan
cinta. Yang pada ujung ajaran tersebut berada pada titik saling menghargai,
toleransai bahkan moderasi terhadam sesame atau bahkan terhadap agama
selainnya. Coba kita lihat satu persatu dalam ajaran islam diajarkan :
وَما اَرْسَلْنَاكَ إلاّ رَحْمَةً
للْعَالَمِيْنَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu,
melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.’’ (QS Al-Anbiya’: 107) . lslam merupakan
agama yang universal, ajarannya mengedepankan kasih sayang, kebaikan kepada
seluruh alam semesta.
Dalam agama Budha diajarkan “Sabbe
satta dukkha pamuccantu” yang berarti semoga semua makhluk bebas dari
penderitaan. Dengan ini ajarannya yaitu Metta / cinta kasih yang bersifat
universal.
Agama Kristen juga mengajarkan “Shalom aleichem” yang
artinya semoga kedamaian selalu menyertaimu.
Agama Khonghucu mengajarkan “Chung
yung”, yaitu sikap selalu di tengah-tengah antara hidup berlebih-lebihan
dan kekurangan yang dapat memberikan keseimbangan terhadap kehidupan
Ajaran Hindu dalam berbagai pusakan
suci mewajibkan menerapkan panca pilar yaitu Satya (nilai kebenaran),
Dharma ( Kebajikan), Shanti (Kedamaian), Prema(Cinta
Kasih), dan Ahisma (anti
Kekerasan).
Bahkan Rasulullah SAW bersabda dalam
kitab Arba’in Nawasi :
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى
يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. Dengan kasih sayang yang universal.
Ismal sendiri hadir sebagai agama
yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi atau sifat moderat dalam beragama,
tidak memandang diluar diri sendiri sebagai ajaran yang salah, melainkan dengan
saling menghargai terhadap umat manusia selainnya. Bahkan perbedaan yang sudah
ada ini memang sudah diciptakan oleh Allah SWT bukan untuk salih dislaahkan
bahkan justru harus kita gunakan untuk saling mengenal satu sama lain dan
saling menghargai tanpa harus ada rasa benci dan bahkan wajib untuk dihargai.
Allah SWT berfirman
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ
إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.(QS.Al Hujurat : 13)
Dalam kitab tafsr jalalin dijelaskan bahwasanya kata الناس dalam ayat tersebut menunjukkan universalan bagi seluruh manusia memang diadakan oleh Allah SWT dengan tujuan semua manusia yang ada disemesta dicitakan dengan sisi perbedaan yang sangat banyak adal agar saling mengnal dan mengerti satu sama lain, sehingga sikap moderat lah yang bisa mengantarkan kita untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya.
Islam juga mengajarkan nilai persaudaraan yang
dikatakan mbah KH. Hasyim Asy’ari ada 3 ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathoniyyah
dan ukhuwah basyariyyah. Hal ini menunjukkan bahwa saudara bukan sekedar kita
yang sesame agama tetapi juga kita yang sama kebangsaannya/negaranya, dan juga
saudara sesame manusia. Bahkan Mbah KH Hasyim Asy ‘Ari sangat tidak suka jika
ada satu kelompok yang menyalahkan satu sama lain.
Terlebih kita sebagai generasi wanita yang
berakidahkan Ahlussunnah Waljama’ah dibawah naungan Nahdlatul ‘Ulama sangat
penting menghiasi diri dengan sikap moderasi, mengenakan gelang kasih sayang
terhadap sesama manusia, mengenakan kaca mata terhadap umat beragama, sehingga
tidak saling menyalahkan bahkan menjatuhkan.
Dari beberapa uraian diatas bisa disimpulkan
bahwasanya moderasi beragama atau sifat moderat yang tengah tengah dalam hidup
beragama sangatlah penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,
terlebih semua agama yang ada di Indonesia pada dasarnya mengajarkan satu inti
yang sama yaitu dengan saling mencintai dan menyayangi serta mengasihi terhadap
sesama manusia, dan tak sepantasnya untuk saling membenci apalagi sampai
memusuhinya. Dengan prinsip akhir kita yang penting
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ bagimu agama mu bagiku
agamaku. Sehingga kita bisa saling menjaga dan menghormati satu dengan yang
lainnya.
Kamis, 26 Mei 2022
episode 2
Berkembangnya kehidupan dan para utusanpun
sudah meninggal kehidiupan maka yang tersisa hanyalah para sahabat yang dulunya
menemani sangutusan menuebarkan agama islalm, sehingga mereka mengabadikan
bahkan menuliskan setiap perilaku, perkataan dan perbuatan sampai pada
kebiasaan Nabi hngga disebut dengan hadits atau sunnah. Semua penjelasan isi
dan kandungan pernah dijelaskan oleh sang Nabi bahkan termasuk dengan tatacara
dan pola kehidupan yang baik dan benar sehingga jasmani dan rohani memiliki
kesehatan yang seimbang. Pada saat itulah para manusia muslim mengambil sumber
ilmu penngetahuan juga syariat dalam kehidupan bersumber pada wahyu Allah SWT
(AlQur’an) dan hadits nabi Muhammad SAW.
Sejak saat itu ketika manusia belajar dan
ingin mengetahui ilmu pengetahuan semua sumbernya lewat Al Qur’an dan kemudian
dijelaskan juga menjadi sumber yang kedua pada isi kandungan hadits Nabi
Muhammad SAW secara menyeluruh dan terperinci sesuai dengan para sahabat
tterima dari sang Utusan. Kehidupan para sahabat ini memiliki peranan yang
besar dalam penyebaran wahyu Allah pada segenap manusia di alam semesta, hal
ini sebagaimana dilakukan oleh sahabat Utsman Bin Affan yang membukukan Al Qur’an
menjadi beberapa jilid dan bentuk kemudian disebarkan ke Negara-negara lain di
semesta. Sehingga sampai sekerang terkenal dengan model penulisan Al Qur’an
yang disebut dengan Rasm Utsmany. Para sahabat ini selama
hidupnya juga memiliki orang yang setia mengikuti ajaran dan fatwa yang
dianjurkannya sehingga mereka disebut dengan kaum tabi’in yang diikuti dengan
setelahnya bernama tabi’ittabin sampai terus menerus sampai pada kehdiupan
manusia sekarang yang disebut dengan tabi’it tabi’it tabi’it tabi’it …..tabi’in.
saat itulah manusia manusia menerima ajaran secara menyeluruh dari manusia
muslim hingga diantatra mereka yang cerdas dan mahir dalam ilmu agamanya
menuliskan karya-karyanya dengan rincian dan dasar pada wahyu dan juga sunnah,
sebab tidak semua manusia memiliki kemampuan dan kecerdasan yang sama tinggi
dalam memahami dan mengerti pada sumber ilmu tersebut.
Usai perkembangan ilmu pengetahuan
mulailah banyak manusia manusia yang memiliki ilmu agama kemudian mereka
memfatwakan apa yang dipelajarinya terhadap manusia yang masih ‘awam. Sehingga mereka
disebut dengan ‘Ulama atau manusia yang memiliki ilmu. Semakin banyaknya
manusia yang ‘alim baik memililki karya kitab ataupun tidak namun mereka
khawash dalam keilmuannya, mereka berkumpul dan musyawarah memutuskan suatu hokum
kehidupan setelah para sahabat dan tabi’in meninggal dan keluarlah fatwa hingga
disebut dengan ijma’ (kesepakatan ‘ulama). Dalam ijma’ ini berisi
terkait dengan hal penting dalam kehidupan mulai dari hokum perilaku dan melakukan
sampai dengan ketetapan pada halal, haram, sunnah, dan kemakruhan setiap
perbuatan manusia. Dalam menjadikan dasar hidup manusia ijma’ memiliki posisi
ke tiga setelah Al Qur’an, hadits, baru ijma’. Kekmudian dengan semakin
berkembangnya pola hidup manusia dan semakin banyaknya hal yang yang sama namun
berbeda maka kemudian diusung sebuah dasar para nahdliyyah yang disebut dengan Qiyas. Pada hal inilah
qiyas berbicara terkait dengan hokum permasalahan dimana hal perilku ucapan
bahkan kebiasan manusia yang serupa dan mirip namun tidak sama sehinngga
perilaku diperbolehkan dan tidaknya sesuai dengan dasar pada Al Qur’an, sunnah,
ijma’ dan Qiyas. Sehingga kehidupan maunusia pun bisa aman, adil dan sejahtera
membentuk kehidupan yang بلدة طيّبة وربّ غفور.
Pada kehidupan yang penuh dengan aneka perkembangan
permasalahan, kebutuhan juga hal yang menunjang kehidupan manusia khusus dan
pada umumnya keempat landasan ini bisa
dijadikan sebbuah ukuran kebaikan atas perilaku juga ilmu pengetahuan yang
memang pada dasrnya sumber pada wahyu Allah kemudian dijabarkan lewat sunnah,
ijma’ dan qiyas.
Kamis, 19 Mei 2022
Selayang Dasar Ilmu
Pencermatan Ilmu
Pada awalnnya manusia mencermati keilmuan
hanya berdasarkan pada wahyu Allah dan menyampaikannnya sesuai dengan apa yang
ada dalam redaksi firman tersebut, namun pada kenyataannya tidak semua manusia
mulai dari yang ‘awam, wasath, khash, sampai pada derajat khawashul
khawash memiliki pemahaman dan
kemampuan serta kecerdasan yang sama. Mungkin bagi para kaum khash dan
khawashul khawash apa yang dipahami bisa sejalan dengan maksud yang ada
dalam redaksi tersebut sebab kemapana ilmu, pikiran dan sarana prasarana dalam
memahami keilmuan dalam wahyu NYA. Keadaan ini sempat memperkacau keadaan kehidupan
dan bahkan semakin banyak manusia dengan sekedarnya bahkan seenaknya sendiri
dalam mengambil dasar keilmuan terhadap pemahaman dirinya sendiri terhadap
firman sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka juga kelompoknya. Sebab terlalu
memaksakakn kehendak dirinya dalam mengetahui makna dari wahyu dan makna yanng
dikehendaki oleh Allah SWT sedangkan mereka tak memenuhi syarat tertentu dalam
melakukan itu. Hingga pada akhirnya melahirkan penafsiran penafsiran firman
Allah SWt sesuai dengan akal manusia yang diseebut Tafsir Bir Ra’yi
dengan segenap perangkat kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sebab dalam
memahami keilmuan ini bir ra’yi cenderung dan banyak mengambil hasil
pemaknaannya sesuai dengan kemmampuan berpikirnya sendiri saja tanpa mengambil
perangkat keilmuan atau dasar keilmuan yang lainnya tannpa adanya dalil dalam
mencermati keilmuan yang ada dalam wahyu Allah
SWT. Namun pencermatan keilmuan dalam Al Qur’an dengan akal pikiran yang
murni bisa jadi diterima keautentikannya selam terhindar dari beberapa hal berikut :
·
Memaksakan makna yang dikehendai Allah SWT tanpa ada nya kemapanan
keilmuan diri
·
Mencoba memaknai ayat yang maknanya menjadi otoritas Allah SWT (الم ,حم,يس,,,,,الخ,,,dll)
·
Mencermati dengan berdasarkan hawa nafsu
·
Mencermati keilmuan makna yang ada dalam wahyu
yang maknanya demikian tanpa adanya dalil yang jelas.[1]
Dengan terjadinya beberapa fenomena yanng
tidak memungkinkan dalam kehidupan keilmuan, maka pencermatan keilmuan kemudan
pengambilan dasarnya dan pokok pembahasannya tidak lagi hanya pada pokok
diatas, namun dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan pada sunnah/hadist
Nabi Muhammad SAW sebagi bentuk pencermati keilmuan dan memudahka dalam
mencermati keilmuan-keilmuan yang ada dalam firman Allah SWT lewat
sunnah/hadits Nabi Muhammad SAW….
Next…
Kamis, 12 Mei 2022
Pembinaan Akhlak
Membina Akhlak Dalalm Bingkai Keanekaragaman
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan dan
bentuk jasad yang berbeda baik dalam rupa atau keruhaniannya atau bahkan
tentang keberagaman latar belakang masyarakat dan keluarganya, akan tetapi
perwujudan itu diadakan oleh Yang Maha Ada bukan dengan maksud untuk saling
menjatuhkan dan merendahkan namun dengan tujuan agar manusia itu bisa saling
mengenali dan memahami sehingga mereka bisa memposisikan diri dalam perilaku
atau bahkan berkomunikasi setiap hari.
Dalam menerima dan memperlakukan manusia, setiap
pribadi harus dibiasakan dan diberikan teladan / contoh perilaku yang bersifat
continue atau terus menerus dengan selalu menempatkan dirinya sendiri merasa
membutuhan terhadap pribadi diluar dirinya. Pembinaan ini bersifat end to
end atau hanya mereka yang dibina dan yag membina saja yang mengetahuinya agar
benar-benar focus arah dan tujuannya sehingga ketika laku yang continue itu
dirujuk pada pendasaran perilaku bisa sesuai tanpa menimbulkan seteru. Hal ini
mendasar pada maksud dari akhlak yang disebutkan خلق dengan arti perangai, watak
dasar, kebiasaan, tingkah laku/perilaku, atau sering dinisbatkan dengan akhlakul
karimah atau budi pekerti.[1]
Hal ini yang mendasari bahwasanya akhlak merupakan sifat dasar yang berasal
dari kebiasaan sehari-hari manusia sebagai proses pembentukan karakter atau
kepriadian yang pada akhirnya tidak ada pertimbangan kembali dalam melakuannya
sebab sudah diyakini kebenarannya dari naluri yang dibentuk dan dibiasakan
setiapp harinya, baik dengan output yang baik atau buruk sebab sudah terbentuk
dalam diiri manusia tersebut.[2]
Sebab akhlak yang asli dalam dirinya meman tidak bisa terbentuk secara spontan
dan tiba-tiba melainkan harus melalui proses dan pembiasaan setiap hari dengan
pembinaan tiada henti.
Pada sisi lain manusia sebagai
sifat dasar dari Tuhan yang menciptakan penuh dengan keaneka ragaman dan
perbedaan yang sangat kompleks atau bahkan sangat menonjol dan sensitive dibicarakannya,
secara naluri menuntut manusia untuk bisa erdas dalam berperilaku dan
kecerdasan perilaku tersebut secara spontan akan tumbuh ketika mereka
benar-benar sudah tertancap perangai yang baik dalam dirinya. Meski memang
terkadang yang membicarakan pun merasa diruikan dalam penyampaian sebab
pengalaman yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya namun jika memang
itu kebenarannya maka harus disampaikan adanya.
Dengan bingkai atau wadah
keanekaragaman inilah yang seharusnya menjadi titik dasar penghargaan manusia
terhadap satu pribadi yang menjalani ataupun yang memberikan kospensasi atau
menilai kebenaran laku dalam pembinaan diri, sebab adanya ketidak sesuaian yang
sekarang oleh diri sebenarnya menjadi jalan yang sedangg ditempuh dalam mengembangkan
prbadi yang lebih baik dan benar lagi, sedang
mereka yang memandatkan pribadinya pada pola pembinaan yang dijalankan
tak sepantasnya memberikan hujatan atau penghakiman balaka namun harus
memberikan penngertian pada yang bersangkutan tentang sebenarnya yang sedang
dilakukan.
Pada kesadaran inilah manusia
bisa membentuk pribadi yang lebih baik lagi sesuai dengan karakter akhlak yang
sampai pada derajat karimah sebab diantara mereka saling menghargai dan
mengerti. Dan yang palng penting adalah bisa saling menjaga lakunya sesuai
dengan keyakinan yang dijalani selama ini tanpa hujatan atau bully ketika
meembbersamai mereka dalam prosesnya sehingga wujud perbedaa yang dimiliki
benar-benar dihargai tanpa membentrokan keanekaragaman yang dijadikan wadah
dalam membentuk pribadi. Dengan kunci utama pembiasaan, penjagaan, serta
penghindaran masalah kepribadian dalam menjalankan.
Minggu, 13 Desember 2020
Metode Tafsir
Tafsir Tahlili
“Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu)
tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan
cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).”
Metode penafsiran
yang digunakan dalam menafsirkan ayat ini adalah tahlili atau analitik, yang
merupakan penafsiran dengan melihat dan menafsirkan setiap kosakata,
menjelaskan isi kandungan, serta menunjukan kandungan agar bisa untuk dipahami
seetiap orang yang membaca. penafsiran tahlili selalu condong pada maksud kandungan yang tersimpan dalam ayat sehingga setiap makna dan penafsirannya ditujukan untuk orang yang tahu dan memahami bisa melaksanakannya.
Jumat, 26 Juni 2020
Kisah Abdurrahman Bin 'Auf
Tiga Kategori Pencari Ilmu
Selasa, 23 Juni 2020
كيف تكون غنيا عند العلماء
Rabu, 03 Juni 2020
Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan
Salah satu syariat yang dipergunakan sebagai identitas dari kemelut dari kehidupan adalah shalat yang dalam sehari manusia mengerjakan lima kali tuk dikerjakan, namun terkadang kita menjalanakan hanya sebagai cara tuk menggugurkan kwajiban makhluk yang bertuhan, padahal sebenarnya ibdah itu sungguh rumit adanya dan memiliki kerumutan rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya. Mungkin kita merasa sombong dengan mengetahui keterangan-keterangan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga menjadikan diri kita sewenang-wengang dengan makhluk Tuhan lainnya bahkan terkadang kepada sesama manusia sang berkebutuhan sama, namun dengan memiliki jabatan yang lebih tinggi dan dan masa yang lebih lama menjadikan kita selalu menebar keangkuhan terhadap orang yang datang baru saja dan pangkat sosialnya lebih rendah darinya. Harusnya kita juga tahu jika dulu nenek moyang kita dan jin pernah berkisah sebab kemurkaan Tuhan yang menjadikan mereka diusur dari surga NYA sebab kesombongan dan keangkuhan jin yang meranda sebab merasa diri paling paling dari makhluk TUhan yang lainnya. Mungkin juga kita pernah mendengar salah satu kisah dulu zaman sahabat Nabi terkait orang yang setiap harinya berbuat kemungkaran mencuri, merampok, dan bertindak kejahatan pada sesama manusia namun ternyata tanpa diketahui orang lain disetiap malam ia selalu shalat dengan khusyuk dengan jumlah rakaat yang banyak, shalat taubat dan memohon ampun akan dosa pada pagi hari dan itu berjalan setiap malam kehidupanya, hingga pada masanya ia meninggal dalam keadaan shalat bukan pada berbuatan dosa, namun ia sungguh mulia dihadapannya. berbeda dengan salah satu kisah orang yang dulunya menyerukan untuk amar maruf nahi munkar untuk manusia lainnya namun siapa sangka ia pada akhirnya tertangkap dengan melakukan dosa secara berurutan dalam satu waktu, yakni meminum khamr, memperkosa perempuan, dan juga karena takut diketahui orang lain akhirnya perempuan itu puun dibunuhnya, padahal ia setiap harinya berbuat pahala mungkin dimata manusia namun kehendak Tuhan dengan menggoda ternyata iapun seperti yang terjadi dari dirinya.
Oleh karenyanta sebaik apapun kita dan seburuk apapun kita dan sebaik apapun kita jangan sampai kita berbuat angkuh apalagi sombong seakan paling baik dihadapan Tuhan padahal ternyata semua itu masih ditutup Tuhan akan keburukan dirinya, padahal lebih rendah dari yang disombngkannya. waspadalah kita untuk itu semua dengansaling menghargai sesama manusia baik yang labeklnya mungkin penuh dosa ataupun alim depan mata maka kesetaraan pergaulan kita perlu dilakukan setiap kehidupan di dunia. terimakasih.
by: Moh. Zaki Jamaludin
Kamis, 24 Oktober 2019
review kitab
- PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
- DESKRIPSI KITAB
- JUDUL KITAB
- BIOGRAFI PENULIS
- UKURAN KITAB
- TEMPAT DAN TAHUN TERBIT KITAB
- STRUKTUR PENULISAN DAN PEMBAHASAN
- KANDUNGAN KITAB
- KARAKTERISTIK DAN UNSUR LOKALITAS KITAB
- KOMENTAR