Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2022

episode 2

 

Berkembangnya kehidupan dan para utusanpun sudah meninggal kehidiupan maka yang tersisa hanyalah para sahabat yang dulunya menemani sangutusan menuebarkan agama islalm, sehingga mereka mengabadikan bahkan menuliskan setiap perilaku, perkataan dan perbuatan sampai pada kebiasaan Nabi hngga disebut dengan hadits atau sunnah. Semua penjelasan isi dan kandungan pernah dijelaskan oleh sang Nabi bahkan termasuk dengan tatacara dan pola kehidupan yang baik dan benar sehingga jasmani dan rohani memiliki kesehatan yang seimbang. Pada saat itulah para manusia muslim mengambil sumber ilmu penngetahuan juga syariat dalam kehidupan bersumber pada wahyu Allah SWT (AlQur’an) dan hadits nabi Muhammad SAW.

Sejak saat itu ketika manusia belajar dan ingin mengetahui ilmu pengetahuan semua sumbernya lewat Al Qur’an dan kemudian dijelaskan juga menjadi sumber yang kedua pada isi kandungan hadits Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh dan terperinci sesuai dengan para sahabat tterima dari sang Utusan. Kehidupan para sahabat ini memiliki peranan yang besar dalam penyebaran wahyu Allah pada segenap manusia di alam semesta, hal ini sebagaimana dilakukan oleh sahabat Utsman Bin Affan yang membukukan Al Qur’an menjadi beberapa jilid dan bentuk kemudian disebarkan ke Negara-negara lain di semesta. Sehingga sampai sekerang terkenal dengan model penulisan Al Qur’an yang disebut dengan Rasm Utsmany. Para sahabat ini selama hidupnya juga memiliki orang yang setia mengikuti ajaran dan fatwa yang dianjurkannya sehingga mereka disebut dengan kaum tabi’in yang diikuti dengan setelahnya bernama tabi’ittabin sampai terus menerus sampai pada kehdiupan manusia sekarang yang disebut dengan tabi’it tabi’it tabi’it tabi’it …..tabi’in. saat itulah manusia manusia menerima ajaran secara menyeluruh dari manusia muslim hingga diantatra mereka yang cerdas dan mahir dalam ilmu agamanya menuliskan karya-karyanya dengan rincian dan dasar pada wahyu dan juga sunnah, sebab tidak semua manusia memiliki kemampuan dan kecerdasan yang sama tinggi dalam memahami dan mengerti pada sumber ilmu tersebut.

Usai perkembangan ilmu pengetahuan mulailah banyak manusia manusia yang memiliki ilmu agama kemudian mereka memfatwakan apa yang dipelajarinya terhadap manusia yang masih ‘awam. Sehingga mereka disebut dengan ‘Ulama atau manusia yang memiliki ilmu. Semakin banyaknya manusia yang ‘alim baik memililki karya kitab ataupun tidak namun mereka khawash dalam keilmuannya, mereka berkumpul dan musyawarah memutuskan suatu hokum kehidupan setelah para sahabat dan tabi’in meninggal dan keluarlah fatwa hingga disebut dengan ijma’ (kesepakatan ‘ulama). Dalam ijma’ ini berisi terkait dengan hal penting dalam kehidupan mulai dari hokum perilaku dan melakukan sampai dengan ketetapan pada halal, haram, sunnah, dan kemakruhan setiap perbuatan manusia. Dalam menjadikan dasar hidup manusia ijma’ memiliki posisi ke tiga setelah Al Qur’an, hadits, baru ijma’. Kekmudian dengan semakin berkembangnya pola hidup manusia dan semakin banyaknya hal yang yang sama namun berbeda maka kemudian diusung sebuah dasar para nahdliyyah yang  disebut dengan Qiyas. Pada hal inilah qiyas berbicara terkait dengan hokum permasalahan dimana hal perilku ucapan bahkan kebiasan manusia yang serupa dan mirip namun tidak sama sehinngga perilaku diperbolehkan dan tidaknya sesuai dengan dasar pada Al Qur’an, sunnah, ijma’ dan Qiyas. Sehingga kehidupan maunusia pun bisa aman, adil dan sejahtera membentuk kehidupan yang  بلدة طيّبة وربّ غفور.

Pada kehidupan yang penuh dengan aneka perkembangan permasalahan, kebutuhan juga hal yang menunjang kehidupan manusia khusus dan pada umumnya keempat landasan ini  bisa dijadikan sebbuah ukuran kebaikan atas perilaku juga ilmu pengetahuan yang memang pada dasrnya sumber pada wahyu Allah kemudian dijabarkan lewat sunnah, ijma’ dan qiyas.

Kamis, 19 Mei 2022

Selayang Dasar Ilmu

Pencermatan Ilmu

Pada awalnnya manusia mencermati keilmuan hanya berdasarkan pada wahyu Allah dan menyampaikannnya sesuai dengan apa yang ada dalam redaksi firman tersebut, namun pada kenyataannya tidak semua manusia mulai dari yang ‘awam, wasath, khash, sampai pada derajat khawashul khawash  memiliki pemahaman dan kemampuan serta kecerdasan yang sama. Mungkin bagi para kaum khash dan khawashul khawash apa yang dipahami bisa sejalan dengan maksud yang ada dalam redaksi tersebut sebab kemapana ilmu, pikiran dan sarana prasarana dalam memahami keilmuan dalam wahyu NYA. Keadaan ini sempat memperkacau keadaan kehidupan dan bahkan semakin banyak manusia dengan sekedarnya bahkan seenaknya sendiri dalam mengambil dasar keilmuan terhadap pemahaman dirinya sendiri terhadap firman sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka juga kelompoknya. Sebab terlalu memaksakakn kehendak dirinya dalam mengetahui makna dari wahyu dan makna yanng dikehendaki oleh Allah SWT sedangkan mereka tak memenuhi syarat tertentu dalam melakukan itu. Hingga pada akhirnya melahirkan penafsiran penafsiran firman Allah SWt sesuai dengan akal manusia yang diseebut Tafsir Bir Ra’yi dengan segenap perangkat kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sebab dalam memahami keilmuan ini bir ra’yi cenderung dan banyak mengambil hasil pemaknaannya sesuai dengan kemmampuan berpikirnya sendiri saja tanpa mengambil perangkat keilmuan atau dasar keilmuan yang lainnya tannpa adanya dalil dalam mencermati keilmuan yang ada dalam wahyu Allah  SWT. Namun pencermatan keilmuan dalam Al Qur’an dengan akal pikiran yang murni bisa jadi diterima keautentikannya selam terhindar  dari beberapa hal berikut :

·         Memaksakan makna yang dikehendai Allah SWT tanpa ada nya kemapanan keilmuan diri

·         Mencoba memaknai ayat yang maknanya menjadi otoritas Allah SWT (الم ,حم,يس,,,,,الخ,,,dll)

·         Mencermati dengan berdasarkan hawa nafsu

·         Mencermati keilmuan makna yang ada dalam wahyu yang maknanya demikian tanpa adanya dalil yang jelas.[1]

Dengan terjadinya beberapa fenomena yanng tidak memungkinkan dalam kehidupan keilmuan, maka pencermatan keilmuan kemudan pengambilan dasarnya dan pokok pembahasannya tidak lagi hanya pada pokok diatas, namun dikembangkan dan disesuaikan dengan keadaan pada sunnah/hadist Nabi Muhammad SAW sebagi bentuk pencermati keilmuan dan memudahka dalam mencermati keilmuan-keilmuan yang ada dalam firman Allah SWT lewat sunnah/hadits Nabi Muhammad SAW….

Next…



[1] Adz-Dzahabi,op cit At Tafsir…. Hlm. 275

Kamis, 12 Mei 2022

Pembinaan Akhlak

 

Membina Akhlak Dalalm Bingkai Keanekaragaman

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan keadaan dan bentuk jasad yang berbeda baik dalam rupa atau keruhaniannya atau bahkan tentang keberagaman latar belakang masyarakat dan keluarganya, akan tetapi perwujudan itu diadakan oleh Yang Maha Ada bukan dengan maksud untuk saling menjatuhkan dan merendahkan namun dengan tujuan agar manusia itu bisa saling mengenali dan memahami sehingga mereka bisa memposisikan diri dalam perilaku atau bahkan berkomunikasi setiap hari.

Dalam menerima dan memperlakukan manusia, setiap pribadi harus dibiasakan dan diberikan teladan / contoh perilaku yang bersifat continue atau terus menerus dengan selalu menempatkan dirinya sendiri merasa membutuhan terhadap pribadi diluar dirinya. Pembinaan ini bersifat end to end atau hanya mereka yang dibina dan yag membina saja yang mengetahuinya agar benar-benar focus arah dan tujuannya sehingga ketika laku yang continue itu dirujuk pada pendasaran perilaku bisa sesuai tanpa menimbulkan seteru. Hal ini mendasar pada maksud dari akhlak yang disebutkan خلق dengan arti perangai, watak dasar, kebiasaan, tingkah laku/perilaku, atau sering dinisbatkan dengan akhlakul karimah atau budi pekerti.[1] Hal ini yang mendasari bahwasanya akhlak merupakan sifat dasar yang berasal dari kebiasaan sehari-hari manusia sebagai proses pembentukan karakter atau kepriadian yang pada akhirnya tidak ada pertimbangan kembali dalam melakuannya sebab sudah diyakini kebenarannya dari naluri yang dibentuk dan dibiasakan setiapp harinya, baik dengan output yang baik atau buruk sebab sudah terbentuk dalam diiri manusia tersebut.[2] Sebab akhlak yang asli dalam dirinya meman tidak bisa terbentuk secara spontan dan tiba-tiba melainkan harus melalui proses dan pembiasaan setiap hari dengan pembinaan tiada henti.

Pada sisi lain manusia sebagai sifat dasar dari Tuhan yang menciptakan penuh dengan keaneka ragaman dan perbedaan yang sangat kompleks atau bahkan sangat menonjol dan sensitive dibicarakannya, secara naluri menuntut manusia untuk bisa erdas dalam berperilaku dan kecerdasan perilaku tersebut secara spontan akan tumbuh ketika mereka benar-benar sudah tertancap perangai yang baik dalam dirinya. Meski memang terkadang yang membicarakan pun merasa diruikan dalam penyampaian sebab pengalaman yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya namun jika memang itu kebenarannya maka harus disampaikan adanya.

Dengan bingkai atau wadah keanekaragaman inilah yang seharusnya menjadi titik dasar penghargaan manusia terhadap satu pribadi yang menjalani ataupun yang memberikan kospensasi atau menilai kebenaran laku dalam pembinaan diri, sebab adanya ketidak sesuaian yang sekarang oleh diri sebenarnya menjadi jalan yang sedangg ditempuh dalam mengembangkan prbadi yang lebih baik dan benar lagi, sedang  mereka yang memandatkan pribadinya pada pola pembinaan yang dijalankan tak sepantasnya memberikan hujatan atau penghakiman balaka namun harus memberikan penngertian pada yang bersangkutan tentang sebenarnya yang sedang dilakukan.

Pada kesadaran inilah manusia bisa membentuk pribadi yang lebih baik lagi sesuai dengan karakter akhlak yang sampai pada derajat karimah sebab diantara mereka saling menghargai dan mengerti. Dan yang palng penting adalah bisa saling menjaga lakunya sesuai dengan keyakinan yang dijalani selama ini tanpa hujatan atau bully ketika meembbersamai mereka dalam prosesnya sehingga wujud perbedaa yang dimiliki benar-benar dihargai tanpa membentrokan keanekaragaman yang dijadikan wadah dalam membentuk pribadi. Dengan kunci utama pembiasaan, penjagaan, serta penghindaran masalah kepribadian dalam menjalankan.



[1] Jamil Shaliba, al Mu’jam al Falsafi , Juz I, hlm. 539

[2] DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA, Akhlak Santri, Ulama (kyai/guru) & Wali Santri), hlm 8-10

Sabtu, 29 Januari 2022

Tawasuth & Moderat

 

Peranan Sikap Tawasuth Dan Moderat

Dalam Menyongsong Peradaban

Manusia yang beradab merupakan manusia-manusia yang memiliki beberapa kriteria dan batasan yang tidak bertentanngan atau semua peraturan keagamaan, kenegaraan, kebudayaan dan kelumrahan masyarakat pada umumnya. Sehingga tidak memihak pada beberapa pihak atau bahkan kepentingan prpibadi atau keompoknya, atau bisa disebut al adlu dalam memperlakukan setiap manusia yang dihadapkan dalam kehidupan. Oleh karenanya prinsip al adlu itu bukan sebatas menjadi konsep memperlakukan tetapi juga pengamalan.

Kehidupan manusia setiap harinya mengalami perbedaan dan perubahan yanng teramat drastic dan bahkan berada diluar kesadaran atau prasangkanya, dengan pribadi yang selalu berlaku sesuai dengan pada umumnya tanpa memihak pada siapapun dan adil dalam jalannya maka ia memiliki sifat tawasuth atau sebagai penengah dan menjadi peribadi yang bisa menyesuaikan diri dimanapun dan dengan siapapun ketika dihadapkan maka berlaku sesuai dengan kebutuhan tanpa menambah atau mengurangkannya. Begitupun dalam kehidupan manusia pasti akakn ada hal yanng memiliki peran atau pengaruh dalam setiap perjalanan hidup baik dari orang lain, lingkungan atau bahkan dirinya sendiri, terlebih dalam perkembangan kehidupan yang teramat dan pesat.

Perkembangan teknologi dan ilmu peetahuan sudah tak dapat lagi dihindari oleh manusia yang akil baligh, atau bahkan sejak balita dan belia mereka sudah dijejeli teknologi, hingga muncul stimologi mereka itu anak manusia atau anak teknologi sebab waktunya lebih banyak dibarengkan dengan barang-barang produk teknologi bukan orang tuanya yang melahirkannya sendiri. Usai mengetahui hal yang demikian dan masih banyak yang lainnya maka manusia kiranya perlu memiliki sikap dan sifat tawasuth dalam kehidupannya, sikap ini bisa dilakukan dengan pribadi yang tak selalu condong baik kebawah. Ia selalu memposisikan diri untuk berada di tengah-tengah keberagamannya dan bukan mencongkakkan apa yang sedang dilakukannya, kemudian dari pada itu lakunya manusia diseimbangkan oleh sikap moderat atau sifat lemah lembut, sopan santun, tata karma, saling menghormati satu dengan yang lainnya serta tawasuth ditanamkan pada pola pikir dengan lakunya yang moderat.

Dalam pergaulan lingkungan masyarakat yang berdemorasi, manusia yang memiliki pola pikir tawasuth mereka akan diyakini bisa dalaml menanggapi setiap perbedaan terlebiih dalam menyampaikan keperbedaannya, sebab ukurnnya hanya berdasar pada kebenaran bukan keberhakan atau kekuasaan, meskipun dirinya  berkuasa namun ketika dirinya dilihat dalam bicara dan bersikap maka ia bisa meredam ego dan membenarkann mana yang harus dibenarkan.. \ begitu pula meski berada dalaml posisi terendah ketika dirinya benar maka dirinya akan menghotmati  pada yang lebih tua atau muda dan kuasa atau tidaknya tetap aka dihormatinya.

Kemudian mereka yang memiliki laku moderat mereka akan cenderung berlaku pada dasar kebenaran, kebenaran yang bukan hanya berlandaskan pada hokum Tuhan dan para utusan, nammun juga kebenaran semua asspek kehidupan termasuk norma-norma sosioal, kebiasaan juga atura adat istiadat kebudayaan yang sudah dijaga olehh leluhur kemanusiaan yanng mungkin juga sama sama ber Tuhan.  Oleh karenanya kedua sikap ini tawasuth dan moderat sangat lah penting dan berpern besar dalam menjaga kehidupan yang lingkunya pibadi sendiri, berkeluarga, bermasyarakat atau bahkan bernegara dan bersemesta yang sakiah mawaddah juga rahmah yang menimbulkan cukkuupnya kebutuhan hidup yang akan disebut sebuah keberkahan. dengan keduanya maka perkembangan nilai baik teknologi, ilmu pengetahuan atau bahkan nilai kemanusaan maka akan tetap dikondisikan dengan kelihaiann memilah yang menjadi kebutuhan yang tanpa saling merugikan

 

MATURSUWUN

 

 

Jumat, 17 Desember 2021

Materi Pengembangan Diri

         Dalam unsur pendidikan ada beberapa unsur yang harus dipenuhi dalam membentuk karakter siswa yang sesuai dengan tujuan dan harapan pendidikan kehidupan nasional. diantarannya adalah pembiasaan pada perilaku kehidupan sehari-hari, bukan lagi memahami apa yang disampaikan oleh pendidik namun juga bagaimana mereka mengimplementasikan dalam keseharianya. Selain itu dalam memngembangkan kepribadiannya perlu ditanamkan satu sisi kesadarannya dalam literasi atau hanya sekedar membaca beberapa kata dalam setiap harinya, memang prlu dibiasakan bagi manusia yag masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan adalah kesadaran literasinya dalam menggiatkann bacaan dan membudayakan baca, meskipun dengan adanya konsumsi baca anak tidak menjamin dirinya untuk bisa berkarya namun paling tidak bisa menumbuhkan minat bacanya dan memberikan kepercayaan dan keerian diri dalam menyampaikan appa yang ada dalam ide pemikirannya dan disampaikan pada khalayak rammai. Beberapa langgkah sebagai pendidik dalam memnumbuhukan giat literasi dan kesadaran siswa dalam menumbuhkan minat bacanya bisa dilakukan dengan :

1. Mempersiakan sumber baca budaya literasi yang mapan dan bersinergi dalam komprehensif                    pengetahuan

2. Mengaitkan hal-hal kehidupa sehari-hari dengan ilmu yang sedang dipelajari

3. Menanamkan kebiasaan litterasi (baca) sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan

4. Memberikan keteladanan pribadi yang sudah menanamkan litterasi dalam dirinya sendiri

5. Menghilangkan doktrinasi pada sebagaian yang lemah dalam kekuatan baca dan kosa kata

6. Apresiasi terhadap kecilnya/sedikitnya literasi pada siswa dan mengantarkan untuk bisa dikembangkan

7. Meniadakan statemen  "banyak baca bisa menciptakan karya"

Senin, 08 November 2021

Kerudung Robbaniy

 kerudung robbani iku nduweni bahan kang adem, kendel, kepenak dinggo, kerudung langsungan kang langsung dinggo tanpa menggunkan alat bantu peniti utowo jarum. 

keruduung robbani meenjadi kultur khas masyarakat jawa dalam menutup auratnya sehingga mencirikan jawa yang amat santun terhadap kelhuran nilai keagamaan dalam islam, sebagai wujud akulturasi budaya yang diwarisi nenek moyang sebab tetap menyimpan dan menjaga nilai religius yang berdampingan dengan kultur masyarakat pada umumnya. hal ini mengingatkan pada perkembangan dan internalisasai nilai keagamaan pada saat penyebaran agama islam di Indonesia yang menggunakan dan menjunjung tinggi sopan santun dan akhlakul karimah bagi yang menjalankannya.

Jumat, 03 September 2021

Pembuka Rizki & Sebab Kaya Menurut 'Ulama

Kodrati manusia hidup dalam dunia memiliki beberapa ketentuan dan jalan yanng bisa berubah dan juga ttetap ssuai dengan asal ketentuannya, bberikut beberapa penyebab terbukanya rizki dan keberkahan dalam menuju kecukkupan hidup olehh beberapa tokkoh,

1. Taqwa dan istiqomah

2. bersyuukur

3. membaca Alqur'an secara istiiqomah

4. memperbanyak dzikir

5. Membaca Shalawat pada nabi

6. Shalat 5 waktu pada awal waktu

7. Memperbanyak shadaqoh

8. Menjaga Shilaturrohimm

9. Memiliki akhlakul karimah

10.  Qana'ah (menerima dengan ikhlas)

11. Bergegas dalam mencari rizki

12. Menyuguhi tamu secara baik dan maksimal sesuai dengan kemampuan 

13. Loman, baik hati, sumeh pada semua orang



#كيف تكون غنيّا sumber

Selasa, 10 Agustus 2021

Serbi

 Serba serbi nikmat Tuhan menjadi satu alasan dalam melangsngkan kehidupan dimana manusia tengah mendeklarasikan simbol-simbol kemerdekaan, meski mereka tak pernah memperjuangkan dan menjalankan apa yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan yang sebenarnya. dengan pilihan dan penentuan jalan menuntutt diri harus bisa menjalani degan konseuensi mmeskki ketidaksiapan diri selalu menyertai ingan keadaan dan ketiadaan hhannya sebatas sudut pandanng manusia dalam menjalani kehdupan.

Kamis, 02 Juli 2020

Wawasan Kekeluargaan

     Keluarga merupakan satu nasib garis keturunan yang menyebabkan manusia untuk berdekatan saling membahu dalam kelangsungan kehidupan, baik secara keturunan dan dapat pula diperoleh secara keyakinan dan berdekatan setiap hatinya. Oleh karenanya keluarga itu dapat berbagi secara lahir dan bathin sebab singkronisasi diri antar beberapa orang selaras dengan jalan kehidupan yang dilaluinya. Kekeluargaan/saudara/kerabat itu terbagi menjadi 3

1. Kekeluargaan disebabkan Nasab/keturunan
2. Kekeluargaan disebabkan Tetangga
3. Kekeluargaan sesama Agama/keyakinan, dan Kebangsaan/Negara
4. Kekeluargaan disebabkan sesama manusia/anak cucu Nabi Adam AS



Jumat, 26 Juni 2020

Kisah Abdurrahman Bin 'Auf

        Merupakan salah satu sahabat nabi yang hidup pada masa nabi sekitar tahun 300 H menemani Nabi Muhammad SAW sejak berada di Makkah hingga hijrah bersama menemani hirah nabi bersama sahabat lainnya untuk berhijrah ke Madinah. Hingga terkenal sebagai sahabat yang perwira, sederhana, memiliki bakat berniaga yang bagus, dan selalu jujur dalam perdagangan, meskipun hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. Hal itu dikisahkan ketika kaum Muhajirin datang bersama nabi ke Madinah dan disambut oleh kaum Anshor  hingga Nabi Muhammad SAW pun mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Salah satunya adalah Abdurrahman Bin 'Auf yang dipersaudarakan dengan kaum Anshor yang memiliki istri lebih dari satu dan memiliki harta juga kekuasaan yang melimpah, dan hartanya pun terbilang tidak ada habisnya. Sahabat Anshor itu yang nantinya menanggung biaya hidup Abdurrahman Bin 'Auf selama di Madinah layaknya saudara kandung sendiri yang bertemu darah keturunannya. Sahabat Anshor itu menawarkan Abdurrahman  untuk memiliki salah satu istri dari anshor itu, dan diberikan beberapa ternak dan wilayah untuk berusaha dan berkebun, namun mulianya abdurrahman bin'Auf dengan kerendahan hati beliau tidak mau menerima semuanya itu dan bahkan istrinya itu tetap pada suaminya, dan hanya menanggung kehidupan Abdurrahman Bin 'Auf di Madinah. Hingga sahabat Anshor itu memasrahkan beberapa usahanya untuk diolah Abdurrahman Bin 'Auf dan diolah nya dengan sangat baik, sebab basic beliau juga yang jiwa niaga yang sangat baik, selain itu Abdurrahman Bin 'Auf dalam berdagang selalu jujur dan lebih memilih jual beli secara kontan meskipun keuntungannya hanya sedikit, namun dengan jiwanya yang seperti itu justru semakin banyak orang orang madinah yang menyukainya dan semakin lama perdagangannya juga semakin berkembang dan maju dari yang kecil hingga menjadi usaha yang sangat besar, semua itu sebab beliau yang sangat sederhana dan jujur serta kontan meski keuntungannya sedikit bukan semakin bangkrut akan tetapi semakin maju dan berkembang.
       Begitulah sekilas kisah istimewanya sahabat Nabi Muhammad SAW yakni Abdurrahman Bin 'Auf yang sangat luar bisa dan patut untuk dijadikan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari khususnya kaum muslim pada umumnya.


by: Moh. Zaki Jamaludin
قصة في الكتاب كيف تكون غنيا

Kopi, Gula & Tembakau

     Kopi itu hanya sebatas serbuk hitam yang pahit dan mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang disana, sebab mereka yang sekedar memandang ia hanya sebagai wujud yang tak sempurna dan mengatakannya hina. Padahal dibalik kejelekan dan keadaan fisik yang tak sama dengan yang lainnya justru menjadikan mereka semakin memiliki tingginya harga bagi penikmatnya dan yang mengauminya, sebab mereka memandang ia dg biji yang memiliki rasa dan mempunyai kandungan olah fikir mereka yang menjadikan hidup mereka semakin bermakna, dan tak akan pernah menurun harganya bagai pengabadi dan penikmat yang sejati baginya.
     Begitupun Gula yang hanya sebutir kecil putih bagai pasir yang diinjak-injak oleh manusia kala mereka hanya berdiri sendiri dan tak bersanding dengan sesamanya, sebab ia yang diadakan dr batangan yang tumbuhan itu juga seringkali direndahkan oleh manusia sebab kegatalan dan ketidaknyamanan oleh manusia namun tanaman tebu itu bahkan dicari oleh semua manusia sebab sifat ketawadhuan Gula untuk menyatu bersama siapa saja dan tak memnadang waktu dan masa dimana dan dengan siapa ia kan disatukan akhirnya. Ia yang butiran kecil dan putih juga tak ternilai dan bahkan dihina jika ia berdiri sendiri dan mengakibatkan penyakit bagi manusia yang mengkonsumsinya, namun itu hanya sebagian manusia. Akan tetapi setiap menusia pasti membutuhkannya sebab dalam diri mereka ada zat gula yang penting untuk dicukupkan dan konsumsipun tak berlebihan sehingga perjalanan hidupnya kan tetap aman dan penuh makna kala bersanding dan menghadap ibadah pada Tuhan semesta.
     Selain dari pada itu Tembakau juga termasuk tanaman yang mayoritas menjunjung tinggi perekonomian Bangsa dan Negara, ia yang ditanam oleh meyoritas pegunungan dan dikonsimnya sendiri dalam kehidupan dan bahkan menjadi citra Semesta Nusantara di mata dunia, ia yang harusnya dinikmati oleh kalangan dewasa juga seringkali kebobolan dinikmati oleh manusia dibawah remaja hingga menciptakan cipta buruk baginya, namun tetap saja ia dinikmati dan dipandang membawa manfaat bahkan keberkahan bagi mereka yang merasakan jerih akan semua hikmah kala tembakau itu ditanamkan. Bahkan ia juga menjadi obat bagi mereka yang meyakininya, simbol sombol kemasan dalam selimut mereka sebenarnya bukan menghantarkan pada larangan meski ada orang yang melarangnya, namun disisi lain juga ada manusia yang mengimani jika ia tak mengapa untuk dijadikan teman berpikir mereka selama tak melebihi kemampuan dan tak berlebihan. Sebab diantara mereka ada yang memandang negatif namun banyak mereka yang memandang positif sebab mereka merasakan akibatnya secara langsung dan kemanfaatan darinya, namun satu hal yang harus kita kukuhkan dalam setiap pandangan kita terhadap ketiganya ketika berbeda sudut pandang akan sifat kebaikan dan keburukan maka tak sepantasnya bagi kita untuk saling membendi dan bermusuhan sebab hakikatnya kita dan mereka tetap sama sama menjadi hambanya Tuhan yang Maha Esa penguasa Semesta Raya.




By: Moh. Zaki Jamaludin

Selasa, 23 Juni 2020

كيف تكون غنيا عند العلماء

    Mencari rizki merupakan suatu kwajiban bagi setiap manusia yang berkehidupan di dunia demi manafkahi diri sendiri, orang tua, keluarga, istri, anak, orang tua. Sungguh Allah SWT menjadikan tandangan atau melakukan beberapa sebab yang digunakan dalam rangka mencari reseki sebagai ibadah yang disukai dan memberikan ganjaran atau pahala bagi mereka yang tekun untuk menjalankannya., Rasulullah SAW juga bersabda ان الله يحب المؤمن المحترف . kemudian bagi mereka yang berniatan baik dalam mentujukan atau bertujuan yang baik dalam mencari rejeki yakni bekerja, maka hal itu bagi dirinya semakin terjunjung tinggi derajatnya dan dikatakan sabilillah  dihadapan Allah SWT, selain itu juga Allah SWT memberikan keutamaan tersendiri bagi mereka dan juga memberikan keberkahan dalam kehidupan mereka.sebab وكل ميسر لما خلق له. Bagi mereka yang menggerakkan badannya untuk bekerja / mencari rezeki yang dalam gerakan itu menunjukkan sifat kerjaan itu menuju pada perkara yang haqq atau jelas dan benardengan memberikan batas-batas, membenarkan kesopanan (kebijaksanaan) dalam perdagangan.. Al kasbu ditetapkan pada beberapa bagian diantaranya yakni al kasbu yang dipuji adalah pekerjaan yang ketika dilakukan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dan dalam bekerja manusia harus memberhenikannya ketika hal itu bertentangan dengan syari'at atau aturan Allah SWT, sehingga pekerjaan itu bisa dikategorikan pada yang ukan kehalalan, dan jika itu sesuai dengan syariat  juga maka itu menjadi kehalalan untuk pekerjaannya. Dari gerakan yang terpuji dalam bekerja maka hal itu menjadi luhur dan menjunjung tinggi derajatnya.
         Bekerja secara tertib dalam gerakan pekerjaan itu dengan mencari pekerjaan yang halal maka menjadi kwajiban tersendiri untuk menjaga dan kwajiban untuk menafkahi diri sendiri, selain itu juga wajib menafkahi istrinya dan menyunnahkan terhadap kedua orang tuanya sebagai bentuk kwajiban seorang anak. Jadinafkah itu bersifat wajib terhadap diri, istri, dan orang tua.

Berikut adalah Kunci Rizki dan menjadi sebab" untuk kaya

 1. Taqwa dan istiqomah
2. Bersyukur
3. Melanggengkan Al Qur'an (sering membaca Alqur'an)
4. Dzikir
5. Do'a
6. Istighfar
7. Shalawat kepada Nabi
8. tidak meninggalkan Shalat
9. Shodaqoh
10. Shilaturrahim
11. Berakhlakul karimah
12. Khidmah
13. Hati' dalam bekerja


Terimakasih Semoga Bermanfa;at.





By: Moh. Zaki Jamaludin

Senin, 22 Juni 2020

Kemanusiaan & Kepemilikan

          Kemanusiaan yang senantiasa bersimpuh pada semestanya Tuhan, pada waktunya pastikan mengalami kematian, kehilangan, perpisahan, keterpurukan, kesakitan, dan juga kesedihan setelah datangnya kehidupan, kepemilikan, pertemuan, kebangkitan, kesehatan dan juga kebahagiaan, namun kala semua itu terjadi jangan sampai membuat nurani kemanusiaan menjadi kebencian terhadap sesama, juga kecemburuan yang membutakan hati belaka hingga kenikmatan Tuhan semesta seakan tak disyukurinya. Oleh karenanya sejak manusia dilahirkan didunia baiknya di bimbing dengan kebiasaan baik sesuai dengan peradaban manusia juga pedoman manusia dalam bersyariat dan beragama, sehingga cikal bakal dan bekal mereka senantiasa berlandaskan pada nilai nilai yang meestinya dijadikan pedoman dalam berkehidupan. Dan jika kelak ketika para orang tua meninggalkan anak-anaknya yang dibicarakan tidak hanya peninggalan orang tua tapi juga bagaimana kita sebagai anak dan keturunannya untuk tetp mendoakan mereka orang tua agar tetap mendapatkan ketenangan di alam kubur mereka.
          Kepemilikan dan mempunyai sesuatu di alam dunia kelak pada akhirnhya makhluk pasti kan melepaskan apa meteri dan hal yang kasat mata untuk kembali pada sang maha kepemilikan yang hakiki sebab materi yang melimpah didunia itu bukan untuk manusia tetap manusia memang dititiipi untuk bisa menjada dan merawatnya, hingga kelak ketika maut menjemputnya pasti materi dan kekayaan yang berindikasi dunia pasti kan ditinggalkan dan dilanjutkan perawatannya kepada anak dan keturunan.Hinga kelak jika anak dan keturunannya tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan yang berpondasikan agama maka bisa dapat dipastikan orang tua yang sudah berada dalam kematian dengan alam yang berbeda hanya bisa menyesal dan menangis dari sana sebab melihat anak yang tinggal hanya memperrebutkaan peninggalan orang tua bahkan tidak pernah mendoakannya. Oleh karenanya perlu diketahui untuk setiap orang tua di dunia, hendaknya kita membekali anak keturunan kita dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama juga jangan sampai kita meninggalkan anak keturunan kita hanya dengan materi atau kekayaan dunia semata namun penting juga untuk membekali anak keturunannya dengn=an ilmu agama dan pengetahuan yang mapan dan penuh dengan pertanggungjawaban hingga kelak jika meninggalkan bisa meringankan beban bukan hanya menambahkan tangisan yang berkepanjangan.
          Kehidupan dan kepemilikan di dunia ini sifatnya hanya sementara sebab yang maha kekal dalam kepemilikan hanyalah Allah SWT, namun jika dalam kepemimlikan materi di dunia lantas dipergunakan untuk beribadah padaNYA niscaya kita kan tetap meimilikinya tidak hanya kepemilikan yang hanya bersifat di dunia namun bisa dilanjutkan dengan kepemilikan hingga menghadap Allah SWT dalam wujud juga bentuk yang berbeda namun pada akhirnya bukan dengan tangisan abadi melainkan berujung dengan kekhusnulan dan kebahagiaan yang tak dapat lagi diperhitungkan sebab berjejer erat bersama Allah SWT juga kekasihNYA.


By: Moh. Zaki Jamaludin

Sabtu, 20 Juni 2020

Adab Tidur

         Tidur merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk menstabilitasi keadaan diri manusia baik secara psikis ataupun sosiologis, fisik dan non fisik, sehingga ketika manusia dalam jangka waktu 1x24 jam tidak menidurkan dirinya pasti keadaan diri, emosional dan seluru isi dirinya tidak stabil dan merasa tidak karuan dalam diri manusia. Beberapa pakar kesehatan menganjurkan dalam sehari semalam manusia perlu mengistirahatkan badan untuk tidur kurang lebih 4 jam begitu pula dalam ajaran agama tidur tidak boleh berlebihan dan juga jangan sampai kekurangan sebab perlunya menjaga diri agar tetap sehat dan segar untuk bisa beribadah dan mengabdi pada Tuhan Semesta Allah SWT.
         Tata cara dan tata tertib seringkali dianjurkan oleh beberapa lembaga ataupun pimpinan juga sekunpulan orang banyak dengan harapan apa yang dilakukan bisa seuai dengan ajaran yang sudah ada dan tidak bersebelahan dengan aturan yang sudah ditetapkan, namun manusia deringkali terjerumus dalam lupa dan juga kelalaian sehingga semakin membuat dirinya tidak sehat badan baik jasmani dan juga rohani. Oleh karenanya sejak dulu dan hingga sekarang sebenarnya setiap manusia dala berkehidupan sudah diberikan ttata caranya hanya saja kita tidak memperhatikan nasehat itu baik oleh Tuhan ataupun para Utusan. Hingga pada akhirnya semua tata cara juga perilaku yang diaturnya menjadi satu syariat dan adab tersendiri dalam melakukan suatu perbuatan baik terkait kemanusiaan ataupun keTuhanan. Begitupun Ajaran Rasulullah SAW dalam tidur baik mau setiap dan bangun tidur juga memiliki adab-adab yang baik hingga lepas dari godaan syaithon. Sebagai berikut setiap manusia yang beragama islam khususnya memiliki adab dalam tdur dan bangun tidur, sebagaimana berikut. 
          Sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk bangun sebelum terbit fajar kemudian baca doa dan ambil wudhu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat sunnah sebelum tiba waktu subuh. Pada pertengahan malam usai bangun tidur ada yang mengatakan ketika manusia tertidur kita terikat diri nya disebabkan oleh setan dengan 3 ikatan satu di kepala, satu di badan, dan satu di kaki. Disana dalam syarah pedoman lengkap kesempurnaan ibadah tali pertama ketika manusia terbangun dapat terlepas dengan membaca doa setelah bangun tidur, ikatan yang kedua terlepas ketika manusia melakukan wudhu/berwudhu untuk mensucikan diri dari hadats kecil, dan ikatan yang terakhir akan terbuka ketika usai berwudhu kita melaksanakan shalat 2 rakaat. Kemudian setelah melaksanakan shalat kita dianjurkan untuk membaca alqur'an untuk mendapatkan keutamaan malam dengan melantunkan kalam Tuhan ketika keadaan malam semesta gelap dan penuh dengan kerahasiaan hingga kelipatan amal baik di setiap malam kita bisa dapatkan dengan melakukan hal itu secara continue dan penuh dengan roja' pada Tuhan.



by : Moh. Zaki Jamaludin

Jumat, 19 Juni 2020

Adat & Budaya Jawa

          Adat menjadi satu gagasan dalam kebudayaan masyarakat yakni suatu kebiasaan masyarakat yang sudah sejak dulu disepakati bersaama-sama demi kemashlahatan dan kemanfaatan bersama yang pada akhirnya menimbulkan satu nilai kebudayaan tersendiri dan menjadi ciri khas dari setiap daerah yang berbeda atau menjadi watak daerah tersebut, dan dijalankan secara turun menurun oleh anak cucu keturunannya pada zaman sekarang dan kemungkinan sampai kedepannya. Adat manjadi nilai dari budaya yang berjalan sedangkan budaya menjadi wadah nilai adat yang sudah diciptakan oleh nenek moyang kita pada umumnya khususnya BUmi Nusantara Jawa. Dan pada setiap adat itu akan memberikan satu kerancuan pada masyarakat dan  menimbulkan sanksi yang tak tertulis terhadap pelaku yang dianaggap masyarakat setempat tidak sesuai dengan nilai adat dan budaya meeka dimana kehidupan ituberlangsung di tempatnya.

Selasa, 16 Juni 2020

Kematian & Persaudaraan

          Kematian menjadi salah satu rahasia sang Tuhan terhadap makhluknya tak memandang ia berstatus sosial tinggi ataupun rendah baik beragama ataupun tidak, baik yang shaleh ataupun yang nakal dan biasa saja, entah mereka pejabat ataupun rakyat biasa, mereka tiada yang tahu melainkan kehendak sang Tuhan semata sebagai suratan takdir yang harus dijalankan oleh manusia seisi semeta, terkait hal itu tiada yang bisa tawar menawar ataupun memajukan dan bahkan memundurkan waktunya pun tiada yang dapat merubahnya. mereka yang sudah tiba waktunya tidak bisa memohon tuk diperpanjang dan mereka yang masih jauh pun tidak mbisa mengajukan permohonan untuk dipercepat waktunya. sebagaimana yang difirman kan, bahwasanya setiap yang bernyawa pasti akan menemui waktunya, dan barang siapa yang sudah tiba ajalnya maka tidak bisa memajukan ataupun mengundur waktunya. Oleh karenaya amal dan amar yang baik senantiasa dilakukan oleh setiap manusia selama normalitas diri makhluk masih ada maka kita perlu amal dan amar yang baik sebagai bntuk penghambaan dan penyadaran pdNya bahwa tiada daya dan kuasa bagi manusia kecuali kehendak Tuhan dan kekuatan Tuhan semesta. Hingga mereka yang sudah menjemput dan terjemput ajalnya kan tetap bersemayam dikubur hingga berakhirnya seluruh semesta jagad raya, hingga petangnya kubur tercerahkan oleh amal dan amarnya manusia itu juga penghadiahkan doa oleh anak keturunannya yang dihadiahkan kepada mereka.
          Persaudaraan menjadikan satu ketentuan Tuhan terkait emosionalitas jiwa manusia akan rasa tolong menolong dan membantu sesama makhluk didunia, hingga ssesama manunsia memang perlu tuk menumbuhkan rasa saling pengertian dan kesadaran lingkungan bersama agar hidup terasa tentram dan aman. Namun memang masih banyak kesadaran yang tertinggal oleh kita semua, dan patutnya manusia manusia Nusantara terlebih manusia jawa mamang harus tinggi jiwa  kesadarannya SEBAB MEEKA  menjadi satu satunya manusia yang menjunjung tinggi harkat kebersamaan topang menopang dalam kehidupan jawa pada dulunya. Sebab kultur jiwa jawa manusia manusia jawa yang terdahlu memnag sangatlah mulia hingga semakin perkembangan semakin memudar sebab apa yang ada menjadikan  jarak antar manusia dengan manusia yang lainnya. Namun dalam perenungan di tengah malam memang perlu kita sadari dan cermati hingga nantinya harus diaplikasi dalam kehidupan bahwasanya kebersamaan dan kesopanan yang harus dijunjung tinggi dalam aspek nilai kehidupan, meski ada kalaanya persaudaraan itu hanya sebatas sesama agama, sesama warga, ataupunsesama tetangga akan tetapi pada hakikatnya kita adalah sesama manusia yang harus aling gotong bersama dalam keadaan yang sudah diciptakan sebagai ketentuan Tuhan yang harus dijalankan sesama manusia di alam jagad raya.



by : Moh. Zaki Jamaludin

Rabu, 10 Juni 2020

Kerja, Pekerja dan Kinerja

          Kinerja merupakan perbuatan yang dilakukan oleh setiap pekerja di setiap pekerjaannya yang sesuai dengan aspek aspek pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan bidang dan tugas kwajibannya dalam suatu lembaga ataupun satu naungan pekerjaan. suatu ketika saat menjelang event tertentu pasti ada yang perlu dilakukan telebih saat menjelang awal dan tahu  perioide pekerjaan sehingga menuntutkan mereka tuk melakukan, meski pada akhirnya menimbulkan kebencian namun kwajiban harus dilakukan semestinya sesuai dengan tanggungan.
          Kerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh setiap manusia untuk mendapatkan sautu target pekerjaan yang diingin bersama dan kepentingan bersama sesuai dengan poros kerja dan kinerja setiap orang tersebut dengan harapan tidak ada miss komunikasi atau pencapaian yang berbeda dari setiap anggota yang berada dlam poros kepemimpinan yang sama. Akan tetapi memang tak dapat dipungkiri oleh setiap manusia bahwasanya Tuhan menciptakan segala sestu itu memang berpasangan dan juga berdampingan mulai dari aspek kehidupan yang melibatkan diri sendiri, sosial, hingga pada penujuan akhir sang Tuhan pencipta semesta alam. Dalam dunia pekerjaan setiap orang pasti akan menemukan satu titik kenyamanan dan kegelisahan juga peraduan keduanya hingga aspek rasa kerjaan yang penuh dengan kejumudan dan kedengkian, semua itu biasanya berasal dari pendatang dan prestasi bagian lain dalam bidang pekerjaan yang dinobatkan sebagai kepercayaan juga kegigihan dalam mengemban amanah yang tak sepantasnya tuk dibicarakan.
       Sebagai orang yang baru memang kita perlu untuk menyesuaikan dengan keadaan dan hegemonitas pelaku roda kegiatan agar tidak terjadi perselisihan antara pendatang lama dengan pendatang yang baru saja menyatu dengan kwajiban dan tujuan yang sama, namun apabila apa yang akan dianggap membawa pada aspek ketenagaan yang menjunjung tinggi nilai senioritas mungkin tidak seharusnya terjadi, sebab dalam dunia pekrjaan kinerja itu memandang satu titik yang menjadikan mereka berbada hanyalah jabata, kedekatan, dan juga orang dalam, meski pada hakikatnya semua manusia dipangdang sama oleh Tuhan namun itulah aspek kehidupan manusia yang berporos pada keduniaan tanpa menimbang martabat keadaan dimana kala makhluk dan Tuhan berada dalam nuansa yang saling memandangkan dibawah timbangan keadilan sang Tuhan. Hingaa jika muncul satu indikasi yang mengarahkan pada titik tersebut munkgin kita prlu melakukan tindakan berupa penulakan dan ketidak setujuan lewat cara baik-baik bukan pembantahan dan penyalahan sesama kinerja ditempat umum dan bukan forum hingga tidak saling menyakitkan dengan tujuan baik maka carapun harus kita lakukan dengan baik pula.
          Begitupun dalam perjalanan yang dilanjutkan ketika sudah mendapatkan tanggungan maka hendaknya diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan, meskipun apa yg dilakukan itu mengandung unsur kesalahan seharusnya apapun langkah berikutnya dan bagaimana penyelesaiannya setiap pihak harus mengetahuai keputusan dari pihak yang berwenang secara transparan dan luwes bukan dadakan dan satupihak saja namun memang susah dijalankan sebab tak selamanya setiap kepemimpinan itu mendapat kan rasa kejiwaan yang faham betapa jatuhnya harga diri dengan apa yang selama ini dilakukan dengan waktu yang diluangkan namun dianggap acuh oleh prt kinerjanya hingga apa yang ditimbulkan itu dianggap sia-sia, oleh karenanya apapun permasalahannya dan apapun keputusannya penyatuan dan penyelesaian tetap harus diketahui dan ditanggung bersama hingga pihak satu dan lainnya saling berlapang dada buka dendam yang mengakibatkan negatif yang menimbulkan rusak dari output kinerja yang dirancangnya.

  Tetap waspada dan jaga-jaga, setiap perbuatan yang nampak mata pasti mekiliki pandangan lain yang positif dan negatif dan bahkan membencinya, tetap sabar, istiqomah, ikhtiar, istiqomah dan doa pada Tuhan Semesta Raya.... !!!

Rabu, 03 Juni 2020

Bentuk-bentuk Hadits


A.  BENTUK-BENTUK HADIS
Dilihat dari segi bentuknya, hadis Nabi dapat diklasifikasikan menjadi lima, yaitu: hadis yang berupa ucapan (hadis qawli), hadis yang berupa perbuatan (hadis fi’li), hadis yang berupa persetujuan (hadis taqriri), hadis yang berupa hal ihwal (hadis ahwali), dan hadis yang berupa cita-cita (hadis hammi).

1.    Hadis yang Berupa Ucapan (Qawli)
Segala perkataan Nabi baik yang berkenaan dengan ibadah maupunkehidupan sehari-hari disebut dengan hadis qawli, yaitu segala bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi. Perkataan itu berisi berbagai tuntutan dan petunjuk syara’, peristiwa-peristiwa. Dan kisah-kisah, baik yang berkaiatan dengan aspek akidah, syari’ah, maupun akhlak. Contoh hadis qawli adalah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abd Allah Ibn ‘Umar bahwa Rasulullah bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّوَصَوْمِ رَمَضَانَ
”Islam ditegakan atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa bulan Ramadhan”.
Periwayatan hadis secara qawli oleh Nabi dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, sabda Nabi disampaiakan di hadapan orang banyak, baik melalui majlis ‘ilm, khutbah, ceramah, dan sebagainya. Hadi diampaikan dihadapan orang banyakyang terdiri dari kaum laik-laki, melalui pengajian rutin di kalangan mereka, dan juga meleui pengajian di kalangan wnaita. Kondisi ini, sebagaimana diriwyatkan oleh Abu Sa’id al Khudzri, bahwa suatu ktika kaum wanita mempersoalkan tentang jatah waktu pengajian antara kaum pria dan wanita, sebab pengajian saat itu lebih banyak dilakukan di kalangan kaum pria. Para wanita itu berkata, “kaum pria telah mengalahkan kami untuk memperoleh pengajaran dari Engkau. Karena itu, mohon engkau menyiapkan satu hari untuk kami.” Maka Nabi menjanjikan suatu hari untuk memberikan pengajaran kepada kaum wanita itu. Dalam pengajian itu Nabi memberi nasihat dan menyuruh mereka berbuat kebajikan. Nabi bersabda.



“Tidaklah seseorang dari kalian yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, melainkan ketiga anak itu menjadi dinding baginya dari ancaman api neraka”. Seorang wanita bertanya, “Dan bagaiman jika yang mati dua orang anak?” Nabi menjawab, “Dua orang anak (juga menjadi dinding baginya dari api neraka”.

Kedua, sabda Nabi dikemukakan di depan seorang atau beberapa orang saja. Hadis qawli disampaikan oleh Nabi di depan salah seorang sahabat baik yang berisi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh sahabat itu maupun tidak. Misalnya , ada seorang wanitayang bertanya kepada Nabi tentang mandi bagi wanita yang telah suci dari haidnya. Nabi menyuruh wanita untuk mandi sebagaimana mestinya, tetapi ia belum mengetahui bagaimana cara mandi itu. Maka Nabi bersabda:


“Ambilah seperca kain (yang telah diolesi dengan wangi-wangian) dari kesturi, maka bersihkanlah dengannya”.
Wanita tersebut bertanya lagi, “Bagaimana saya membersihkannya?” Nabi bersabda, “bersihkanlah dengannya”. Wanita itu masih betanya lagi, “Bagaimana (cara-nya)?”. Nabi bersabda, Subhanallah, hendaklah kamu bersihkan”. Maka Aisyah, istri Nabi berkata “Wanita itu saya tarik ke arah saya dan saya katakan kepadanya, “Usapkan seperca kain itu ke tempat bekas darah”.

Meskipun hadis di atas berkenaan dengan tuntutan teknis suatu kegiatan, yaitu cara membersihkan darah bagi wanita yang selesai haid, hadis itu bukan kategori fi’li, sebab di dalamnya tidak terdapat peragaan Nabi tentang cara mandi bagi wnaita yang baru selesai haid. Nabi hanya memberi tuntunan bagaimana caranya mandi setelah haid itu melalui sabdanya.

Ketiga, hadis qawli dikemukakan oleh Nabi sebab tertentu yang mendorongnya menyampaikan hadis yang berkenaan dengan peristiwa tertentu itu. Sebab tertentu itu, dalam ilmu hadis, disebut dengan asbab wurud al-hadis, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan hadis disabdakan oleh Nabi. Ketika Rasulullah mengangkat seorang pejabat pengumpul zakat (‘amil), misalnya, saat pejabat itu selesai melaksanakan tugasnya, dia datang kepada Nabi dan berkata, “Rasulullah ini untuk engkau dan ini hadiah yang diberikan orang kepada saya”. Maka Nabi bersabda kepada sahabat itu, “Mengapa kamu tidak duduk saja di rumah ayah dan ibumu sehingga kamu dapat melihat, apakah dengan demikian kamu juga akan memperoleh hadiah atau tidak?”

Kondisi di atas, pada malam harinya setelah shalat isya’ mendorong Nabi berpidato di depan orang banyak. Sesudah mebmbaca syahadat (al-syahadatayn) dan memuji Allah (hamdalah), Nabi bersabda:
“Adapun sesudah itu bagaimanakah halnya, bila seorang pejabat yang kami serahi tugas kalau dia datang melapor kepada kami seraya berkata: “Ini adalah hasil tugas yang berasal dari Anda, sedang ini adalah bagian yang dihadiahkan kepada saya”. Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, sehingga dia dapat melihat apakah dia akan diberi hadiah (oleh orang)ataukah tidak. Demi Allah yang diri Muhammad berada dalam genggaman-Nya, tiadalah seorang dari kalian melakukan ssuatu pengkhianatan (korupsi), kecuali nanti pada hari kiamat dia akan memukul beban di lehernya. Jika yang dikorupsi adalah seekor unta, maka dia akan datang dengan suara unta; jika (yang dikorupsi) adalah seekor sapi, maka orang itu akan datang dengan meenguh seperti sapi; bila (yang dikorupsi) adalah seekor kambing, maka orang itu datang dengan mengembek. Sungguh (hal ini) telah kusampaikan kepada kalian”.
Abu Hamayd al-Sa’di, sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis di atas, berkata: “Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangan beliau, sehingga kami melihat warna putih pada kedua ketiak beliau.”

Terlihat pada riwayat di atas, Nabi menyampaikan hadisnya dengan lisan di hadapan orang banyak. Hadis itu disampaikan Nabi sebagai teguran terhadap seorang petugas yang melakukan “korupsi” berupa penerimaan hadiah dari masyarakat. Ketika berpidato menyampaikan peristiwa pelanggaran itu, nabi tidak mnyebutkan nama petugas yang telah ditegurnya. Kasus sahabat tersebut memotivasi Nabi berpidato di depan untuk memperingatkan mereka agar tidak berbuat hal serupa.

Keempat, pada umumnya, hadis dalam bentuk sabda tidak disertai dengan sebab tertentu. Nabi bersabda tanpa adanya motivasi yang mendorongnya untuk menyampaikan hadis. Hadis kategori ini disampaikan oleh Nabi dalam rangka menyampaikan ajaran islam sebagai tugas risalahnya meskipun tidak ada yang melatarbelakangi kemunculan hadis dimaksud. Misalnya, hadis tentang bacaan ringan yang dicintai oleh Allah. Dengan menyampaikan hadis ini, Nabi bermaksud agar umat islam melakukannya. Nabi bersabda:
“Dua kata yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan (kebajikannya), serta dicintai oleh Allah yang Mahapengasih, yaitu (ucapan), “Subhan Allah wa bi hamdih subhan Allah al-‘Azhim.”

Kelima, pada umumnya, nabi tidak menyertakan perintah untuk menulis sabda itu kepada sahabat tertentu. Nabi hanya bersabda dan seorang atau beberapa sahabat mendengarkannya. Akan tetapi, adakalanya Nabi menyertakan perintah kepada sahabat tertentu untuk menulis sabda yang diucapkannya itu.

2.    Hadis yang Berupa Perbuatan (Fi’li)
Dimaksud dengan hadis fi’li adalah segala perbuatan yang disndarkan kepada Nabi seperti cara Nabi melaksanakan shalat, wudhu, dan lain-lain ynag disampaikan kepada umat islam melalui sahabat. Hadis tersebutberupa perbuatan Nabi yang menjadi aturan perilaku sahabat pada saat itu, dan menjadi keharusan bagi semua umat islam untuk mengikutinya. Contoh hadis fi’li:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَة

Artinya: ”Rasulullah saw pernah shalat di atas tunggangannya, ke mana pun tunggangannya menghadap. Apabila ia mau melaksanakan shalat fardhu, ia turun dari tunggangannya, lalu menghadap ke kiblat ”. (HR. Turmudzi)

Hadis yang berupa perbuatan tidak diketahui langsung oleh Nabi tetapi melalui informasi yang disampaikan oleh sahabat. Ketika Nabi melakukan sesuatu, sahabat menyaksikan perbuatnnya kemudian disampaikan kepada sahabat lain. Hadis fi’li dilihat dari proses periwayatnnyamasuk kategori hadis yang disampaikan sahabat, dalam arti para sahabat yangmenyampaikan kandungan hadis yang berupa perbuatan itu kepada para generasi sesama sahabat atau generasi berikutnya. Sekilas, karena yang menyampaikan sahabat secara verbal, hadis ini termasuk hadis mawquf, namun sesungguhnya tidak. Alasannya, hadis mawquf dinisbahkan pada sahabat, jadi sahabat yang menjadi sumber berita, sementara hadis fi’li sumber beritanya adalah Nabi dan karenanya bersifat marfu’, Hadis fi’li ini juga mempunyai beberapa kategori:

Pertama, hadis yang berupa perbuatan yang disebabkan oleh sebab tertentu. Nabi melakukan suatu perbuatan yang disaksikan oleh seorang atau lebih sahabat yang disebabkan faktor tertentu. Penyebab Nabi berbuat atau bersabda bermacam-macam.

Kedua, hadis fi’li yang tidak disebabkan oleh sebab tertentu. Hadis-hadis yang berbentuk perbuatan yang tidak disebabkan oleh sebab tertentu lebih banyak dibanding hadis-hadis yang disebabkan oleh faktor tertentu. Hal ini dapat dimaklumi, karena nbi berbuat tiap hari dan kebanyakan perbuatannya itu terjadi tanpa didahului oleh sebab tertentu yang menjadi motivasinya. Jumlah hadis kategori ini sangat banyak mencakup segala aktivitas yang Nabi lakukan baik berkenaan dengan ibadah maupun muamalah, bahkan berita tentang doa-doa Nabi juga merupakan sebagian dari hadis fi’li, Misalnya:

“Do’a yang paling banyak dilakukan Nabi saw, adalah Allahumma atina fi al-dun-ya hasanah wa fi al-akhirah hasanah waqina ‘adzaba al-nar” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Hadis diatas menjelaskan bahwa aktivitas doa yang paling banyak dilakukan oleh rasulullah adalah do’a tentang permohonan kehidupan yang sejahteradi dunia dan dan akhirat, serta terhindar dari siksa api neraka. Karena doa ini dilakukan oleh Nabi apalagi dilakukan secara berulang kali, maka dapat dinilai sebagai perbuatan Nabi.
Ketiga, hadis yang berupa perbuatan yang dilakukan di hadapan orang banyak. Sebagaimana diinformasikan oleh ‘Aisyah, pada suatu malam Rasulullah shalat di masjid. Lalu orang-orang ikut shalat bersama Nabi. Pada malam berikutnya, Nabi shalat lagi di Masjid, orang-orang yang ikut shalat bersama Nabi pun semakin banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat orang-orang berkumpul lagi untuk melakukan shalat jamaah dengan Rasulullah, akan tetapi Rasulullah tidak keluar dari kediamannya. Pada waktu shubuh Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya saya telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi saya untuk keluar menjumpai kalian, terkecuali saya sesungguhnya khawatir kalian akan menyangka bahwa shalat malam tersebut diwajibkan atas kalian”

Peristiwa bahawa pada suatu malam Rasulullah shalat di masjid dan diikuti orang-orang shalat bersama Nabi dan pada malam berikutnya Nabi shalat lagi di Masjid yang diikuti oleh orang-orang yang semakin banyak, tetapi Rasulullah tidak keluar dari kediamannyameskipun banyak orang menunggu itu terjadi pada bulan Ramadhan. Perbuatan nabi tersebut dilihat dan disaksikan oleh para sahabat yang saat itu mengikuti shalat berjamaah bersama Nabi.
Keempat, hadis yang berupa perbuatan yang dilakukan di hadapan satu atau beberapa orang saja. Diantara contoh hadis fo’li kategori ini adalah sebuah hadis tentang cara shalat Nabi di atas kendaraan, yang berbunyi:

“Nabi shalat di atas tungganganya, ke mana saja tunggangannya itu mengahadap”
            Aktifitas sebagaimana dikandung oleh hadis diatas dilakukan oleh rasulullah di depan beberapa sahabat yang kebetulan mengikuti Nabi dalam perjalanan, tidak dilakukan Nabi di dean khalayak ramai seperti halnya khutbah.


3.    Hadis yang Berupa Persetujuan (Taqriri)
Tidak semua meteri hadis secara utuh berasal dari Nabi, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagiannya adalah perkataan atau perbuatan sahabat, baik yang dilakukan di depan Nabi atau sebelum itu yang kemudian dikonfirmasi pada Nabi. Hadis kategori ini dalam terminologi hadis disebut dengan hadis taqriri, yaitu hadis yang berupa ketetapan Nabi terhadap apa yang datang atau yang dilakukan oleh para sahabatnya. Menurut ‘Abd al-wahab Khallaf dalam bukunya ‘ilm Ushul al-Fiqh, hadis taqriri adalah penetapan Rasulullah atas sesuatu yang dilakukan oleh sahabat baik berupa ucapan maupun perbuatan dengan cara Rasulullah diam (tidak menyangkal), setuju, dan menganggapnya bagus. Dalam hal ini, Nabi membiarkan atau mendiamkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabatnya, tanpa memberikan penegasan, apakah beliau membenarkan atau mempersalahkannya.

Jadi, materi dalam hadis kategori ini bukan dari Nabi melainkan dari para sahabat yang kemudian disetujui oleh Nabi. Sikap Nabi yang demikian itu dijadikan dasar oleh para sahabat sebagai dalil taqriri, yang dapat dijadikan hujjah dan/atau mempunyai kekuatan hukum untuk menetapkan hukum. Karena pada dasarnya, seandainya Nabi tidak menyetujui perbuatan itu, niscaya dia menolak atau melarangnya.
Contoh hadis taqriri adalah hadis riwayat Abu Dawud berikut: “Dua orang laki-laki pergi melakukan perjalanan. Ketika sampai waktu shalat dan keduanya tidak mendapatkan air, mereka bertayamum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Setelah itu, mereka menemukan air. Salah seorang diantaranya berwudhu dan mengulangi shalat, sedang yang lainnya tidak mengulanginya. Keduanya datang menghadap Rasulullah dan meneceritakan hal itu. Kepada yang tidak mengulangi Rasulullah bersabda: Engkau telah mengerjakan menurut sunnah. Sedang kepada yang lainnya Nabi bersabda: Engkau mendapatkan pahala dua kali.
            Pada hadis lain yang berupa persetujuan disebutkan bahwa Rasulullah membiarkan para sahabat memkaan daging Biawak, akan tetapi Nabi sendiri tidak memakan daging tersebut dan tidak mengharamkannya. Meskipun Nabi tidak makan daging biawak tidak menunjukan bahwa daging itu haram, ssebab ia memebiarkan sahabat makan daging itu tanpa menegur mereka. Pada kesempatan lain Rasululah menyetujui kebujakan yang diambil Muadz ketika menjadi hakim di Yaman. Sikap Rasulullah terhadap jawaban Mu’adz ibn Jabal atas pertanyaan yang disampaikan kepadanya ketika akan diutus untuk menangani masalah peradilan di Yaman yang meneuturkan bahwa ia akan menyelesaikan perkara dengan Al-Qur’an, hadis dan ijtihadnya. Juga merupakan salah satu contoh hadis taqriri. Dalam hal ini, pernyataan Nabi yang menyatakan pujian bagi Allah karena memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah (Mu’adz) sebagaiman dikehendaki-Nya menunjukan persetujuan Nabi terhadap tindakan Mu’adz itu.

4.    Hadis yang Berupa Cita-cita (Hammi)
Sebagaimana manusia pada umumnya, Nabi mempunyai cita-cita. Sebagian cita-cita itu tercapai dan sebagiannya tidak. Hadis yang berisi tentang cita-cita Nabi disebut dengan hadis Hammi, yaitu hadis yang berupa keinginan atau hasrat Nabi yang belum terealisasikan. Hadis kategori ini tidak disebutkan dalam dalam beberapa definisi hadis baik oleh ulama hadis, ulama ushul maupun ulama fiqih.

Secara realitas, hadis hammi belum terwujud tetapi masih dalam ide dan keinginan yang pada pelaksanaannya akan dilakukan pada masa sesudahnya. Karena itu, pada hakikatnya, hadis kategori ini bukan perbuatan, perkataan, persetujuan atau sifat-sifat Nabi. Tetapi, perbuatan yang akan dilakukan oleh Nabi pada masa-masa berikutnya dan belum terwujud ketika Nabi menginginkannya, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘Asyura. Dalam sebuah hadis dari Ibn Abbas dinyataka bahwa ketika Nabi berpuasa pada hari ‘Asyura tanggal 10 dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Nabi, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Nabi bersabda:

بِصِيَامِهِ قَالُوْ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَزْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِع 

 Artinya “Ketika Nabi saw. Berpasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, Ya, Nabi! Hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Lalu Nabi saw. Bersabda, Tahun yang akan datang insyaallah akan berpuasa pada hari yang ke sembilan (HR. Muslim)

Sikap Nabi demikian untuk menghindari waktu yang bersamaan dengan puasa orang yahudi dan Nasrani. Pada saat hadis di atas disabdakan, Nabi berpuasa pada tanggal 10 dan setelah para sahabat memberi tahu bahwa saat itu adalah saat puasa bagi pemeluk dua agama di atas. Nabi kemudian bercita-cita untuk berpuasa pada tanggal 9 ‘Asyura. Hasrat dan cita-cita itu belum sempat terealisasi karena beliau wafat sebelum datang bulan ‘Asyura tahun berikutnya.

Dengan demikian, dilihat dari esensinya, hadis yang berupa cita-cita belum terwujud tetapi masih pada tataran keinginan yang belum dilaksanakan. Hadis kategori ini relatif sedikit dibanding dengan kategori hadis-hadis lain.